Jadwal imsakiyah Ramadhan 1438 H

Jadwal imsakiyah Ramadhan 1438 H

Wilayah Labuhanbatu

Advertisements

4 Sifat Nabi: Shiddiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Al Ahzab 21]

Nabi Muhammad memiliki akhlaq dan sifat-sifat yang sangat mulia. Oleh karena itu hendaklah kita mempelajari sifat-sifat Nabi seperti Shiddiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh. Mudah-mudahan dengan memahami sifat-sifat itu, selain kita bisa terhindar dari mengikuti orang-orang yang mengaku sebagai Nabi, kita juga bisa meniru sifat-sifat Nabi sehingga kita juga jadi orang yang mulia.

Shiddiq

Shiddiq artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya juga benar. Sejalan dengan ucapannya. Beda sekali dengan pemimpin sekarang yang kebanyakan hanya kata-katanya yang manis, namun perbuatannya berbeda dengan ucapannya.

Mustahil Nabi itu bersifat pembohong/kizzib, dusta, dan sebagainya.
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌۭ يُوحَىٰ

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya” [An Najm 4-5]

Amanah

Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itulah Nabi Muhammad SAW dijuluki oleh penduduk Mekkah dengan gelar “Al Amin” yang artinya terpercaya jauh sebelum beliau diangkat jadi Nabi. Apa pun yang beliau ucapkan, penduduk Mekkah mempercayainya karena beliau bukanlah orang yang pembohong.

“Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” [Al A’raaf 68]

Mustahil Nabi itu khianat terhadap orang yang memberinya amanah.

Ketika Nabi Muhammad SAW ditawari kerajaan, harta, wanita oleh kaum Quraisy agar beliau meninggalkan tugas ilahinya menyiarkan agama Islam, beliau menjawab:

”Demi Allah…wahai paman, seandainya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kanan ku dan bulan di tangan kiri ku agar aku meninggalkan tugas suci ku, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan (Islam) atau aku hancur karena-Nya”……

Meski kaum kafir Quraisy mengancam membunuh Nabi, namun Nabi tidak gentar dan tetap menjalankan amanah yang dia terima.

Seorang Muslim harusnya bersikap amanah seperti Nabi.

Tabligh

Tabligh artinya menyampaikan. Segala firman Allah yang ditujukan oleh manusia, disampaikan oleh Nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung Nabi.
لِّيَعْلَمَ أَن قَدْ أَبْلَغُوا۟ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَىٰ كُلَّ شَىْءٍ عَدَدًۢا

“Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” [Al Jin 28]

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
karena telah datang seorang buta kepadanya” [‘Abasa 1-2]

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa firman Allah S.80:1 turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta yang datang kepada Rasulullah saw. sambil berkata: “Berilah petunjuk kepadaku ya Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang menghadapi para pembesar kaum musyrikin Quraisy, sehingga Rasulullah berpaling daripadanya dan tetap mengahadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya katakan ini mengganggu tuan?” Rasulullah menjawab: “Tidak.” Ayat ini (S.80:1-10) turun sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah saw.
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Ya’la yang bersumber dari Anas.)

Sebetulnya apa yang dilakukan Nabi itu menurut standar umum adalah hal yang wajar. Saat sedang berbicara di depan umum atau dengan seseorang, tentu kita tidak suka diinterupsi oleh orang lain. Namun untuk standar Nabi, itu tidak cukup. Oleh karena itulah Allah menegurnya.

Sebagai seorang yang tabligh, meski ayat itu menyindirnya, Nabi Muhammad tetap menyampaikannya kepada kita. Itulah sifat seorang Nabi.

Tidak mungkin Nabi itu Kitman atau menyembunyikan wahyu.
Fathonah

Artinya Cerdas. Mustahil Nabi itu bodoh atau jahlun. Dalam menyampaikan 6.236 ayat Al Qur’an kemudian menjelaskannya dalam puluhan ribu hadits membutuhkan kecerdasan yang luar biasa.

Nabi harus mampu menjelaskan firman-firman Allah kepada kaumnya sehingga mereka mau masuk ke dalam Islam. Nabi juga harus mampu berdebat dengan orang-orang kafir dengan cara yang sebaik-baiknya.

Apalagi Nabi mampu mengatur ummatnya sehingga dari bangsa Arab yang bodoh dan terpecah-belah serta saling perang antar suku, menjadi satu bangsa yang berbudaya dan berpengetahuan dalam 1 negara yang besar yang dalam 100 tahun melebihi luas Eropa.

Itu semua membutuhkan kecerdasan yang luar biasa.

RA UMMI FAUZIAH RANTAUPRAPAT

RA (Raudhatul Athfal) Ummi Fauziah Rantauprapat terletak di Jalan Cemara No.89A Padang Matinggi Rantauprapat – Labuhanbatu – Sumatera Utara.

Berdiri sejak tahun 1992 dibawah asuhan (Alm.) H. Bahroem Dalimunthe dan Hj. Fahimah Pohan. Mengasuh pendidikan setingkat TK (Taman Kanan-kanak) dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

RA Ummi Fauziah memberikan pendidikan Al Quran dan pendidikan Akhlaq, meskipun demikian tetap mengenalkan membaca menulis dan berhitung bagi santriwan dan santriwati. Beberapa fasiltas yang telah tersedia :

  • Ruang bermain Indoor
  • Ruang belajar permanen representatif
  • Taman yang luas
  • Perpustakaan
  • Mushalla
  • Tanaman buah
  • UKS
  • Lingkungan Free Wi-Fi

Dengan pengalaman menerapkan metode Iqra’, RA Ummi Fauziah Rantauprapat tetap menjadi pilihan warga Rantauprapat. Untuk informasi dapat menghubungi 0624-22339, WhatsApp 082369888200 dan Email/YM : abdul_hakim_daly[at]yahoo.com.

“ENDENG-ENDENG” ALA Masyarakat Batak Muslim Labuhanbatu Utara, Sebuah Metamorfosa Hakikat Nilai Adat dari Sakralisme Menuju Hedonisme dan Dari Sosialisme Menuju Materialisme

Tulisan ini bertujuan untuk mencari jati diri, revitalisasi dan pelurusan hakikat adat istiadat  dan budaya yang berlaku bagi sebagian masyarakat suku Batak di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Propinsi Sumatera Utara.

TINJAUAN HISTORIS

Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) yang terletak di Propinsi Sumatera Utara sekitar 250 km ke arah selatan Kota Medan (ibu kota Propinsi Sumatera Utara) dengan luas wilayah 354.580 ha berada di kawasan bukit barisan dan pesisir timur pulau Sumatera 99.25. o – 100.05.o Bujur Timur dan 01o58’’ – 02o50’’ Lintang Utara dengan ketinggian 0 – 2.151 meter di atas permukaan lautKabupaten Labura berbatasan langsung dengan Kabupaten Asahan, Padang Lawas Utara, Tapanuli Utara, Toba Samosir dan Labuhanbatu (induk).

Pada awalnya daerah ini menjadi bagian dari Kabupaten Labuhanbatu, namun seiring dengan berkembangnya arus otonomi daerah, Pemerintah RI menetapkan Kabupaten Labuhanbatu dimekarkan menjadi 03 (tiga) Kabupaten. Untuk itu dikeluarkanlah UU No. 23 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Utara, dan kini Labura berdiri sendiri sebagai salah satu Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara.

Ada 03 (tiga) suku mayoritas yang menempati daerah ini yakni Batak Toba, Batak Mandailing dan Suku Jawa. Padahal sebagaimana dimaklumi bahwa pesisir pantai timur merupakan basis hunian bagi suku Melayu yang membentang mulai dari daerah Langkat, Medan, Bedagai, Asahan hingga daerah Propinsi Riau. Oleh sebab itu, suku Melayu tentulah menjadi suku asli penghuni Kabupaten Labura pada awalnya. Namun migrasi penduduk yang berdatangan ke Labura baik dari selatan maupun dari utara seolah-olah membuat suku Melayu tidak lagi dominan di daerah ini.

EKSISTENSI DAN KAJIAN ADAT BUDAYA

Sebagaimana dikatakan di atas, bahwa tulisan ini mengarah pada persoalan adat istiadat yang berlaku di Kabupaten Labura khususnya bagi masyarakat suku Batak Muslim yang berdomisili di kawasan Kecamatan Aek Natas, Kecamatan NA IX-X, Kecamatan Kualuh Selatan dan Kecamatan Gaya Baru Merbau dan mungkin saja berlaku juga di kawasan kecamatan lain di sekitarnya, di mana telah memiliki tradisi dan adat istiadat secara turun temurun sejak puluhan atau mungkin ratusan tahun silam.

Migrasi penduduk dari daerah Toba (Tapanuli Utara) ke arah timur dan berbaur dengan masyarakat Melayu serta Batak Mandailing yang bermigrasi dari selatan mengaburkan adat dan tradisi yang berlaku di daerah ini. Kajian ini berlaku bagi masyarakat Batak yang beragama Islam, karena suku Batak Toba yang beragama Kristen memiliki tradisi sendiri yang mungkin kadar metamorfosanya sangat kecil dibandingkan dengan adat Batak Toba di daerah aslinya.

Pada dekade tahun 1970-an hingga akhir tahun 1980-an, tidak begitu jelas tahun-tahun sebelum kelahiran penulis, sebagian masyarakat Batak Muslim di Labura memiliki tradisi dan adat budaya yang unik dan tidak ditemukan di daerah lain. Adat istiadat ini biasanya akan terlihat pada acara-acara perkawinan (walimatul ‘ursy) yang dikenal dengan istilah “PABAGAS BORU” (mengawinkan anak perempuan). Sebagai gambaran, acara perkawinan ditandai dengan datangnya calon mempelai dan keluarga calon mempelai pria ke rumah kediaman calon mempelai wanita di mana akan dilaksanakan acara akad nikah dan naik pelaminan untuk ditepungtawari oleh seluruh undangan dan keluarga serta esok harinya akan diadakan acara upah-upah, sejenis acara pemberian do’a restu dan kata-kata nasihat bagi pengantin, semoga kelak menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Itulah esensi dari acara naik pelaminan.

Akad nikah biasanya langsung dilaksanakan setelah kedatangan calon mempelai pria, umumnya pada sore hari dan acara akad nikah akan tuntas sebelum malam hari (sebelum masuk waktu shalat maghrib). Selanjutnya, bila pengantin laki-laki berasal dari kampung lain, maka pihak penyelenggara acara yang biasanya disebut pihak “SUHUT” atau juga “SUHUT SIHABOLONAN” akan mencarikan rumah tetangga atau teman sekampung sebagai pangkalan dan penginapan bagi keluarga mempelai pria.

Malam hari sekitar pukul 21.00, acara naik pelaminan dimulai. Kedua mempelai yang baru saja resmi menikah sore tadi didudukkan bersanding di atas pelaminan didampingi oleh pendamping laki-laki dan perempuan yang sering diistilahkan sebagai “PANDONGANI”.

Penyambutan acara naik pelaminan ini ditandai dengan tampilnya sekelompok pemainzikir berdah memakai rebana sedikitnya 6 personil. Pemain zikir berdah ini telah terlebih dahulu memulai acara zikir yang berkumandang tanpa alat musik, baru kemudian pengantin naik pelaminan.

Selanjutnya acara menortor (menarikan bunga yang disebut “BUNGA INAI”),  bunga buatan dari kertas diletakkan di dalam botol mirip botol kecap atau botol minuman dari kaca yang dihias sedemikian rupa. Penentuan siapa yang akan menortor diatur oleh seorang MC atau protokol berdasarkan data yang dimilikinya dalam daftar menurut urutan kekerabatan. Urutan tersebut mencakup:

  1. Suhut (keluarga penyelenggara pesta)
  2. Hula-hula atau keluarga dari pihak keluarga ibu si penyelenggara atau keluarga pihak istri si penyelenggara.
  3. Anak boru atau keluarga penyelenggara dari sisi perempuan

Sistem kekerabatan ini tentunya menggambarkan masih adanya peristilahan “DALIHAN NATOLU” yang diangkat dari tatanan kekerabatan suku Batak.

Alunan lagu pengiring menortor ini disebut “BERDAH” atau disebut juga oleh masyarakat sebagai “BORDAH” mengumandangkan lagu pengiring yang boleh dipilih oleh si penortor. Jumlah penortor pada awalnya terdiri dari 1 atau 2 orang, lalu kemudian menjadi ramai karena diikuti oleh rekan serumpunnya, misalnya posisi seorang penortor adalah pihak hula-hula, maka siapa saja yang merasa pada posisi hula-hula boleh ikut menortor dan pengantin pun biasanya didaulat untuk ikut serta menortor.

Tradisi memberikan ulos atau mangulosi dalam adat Batak Toba di dalam adat ini juga ada pada saat menortor, namun interprestasinya berbeda. Ulos diganti dengan kain sarung atau kain panjang/pulikat sebagaimana terdapat dalam tradisi dari adat Mandailing yang disebut “ABIT’ dan “SALENDANG”. Interpretasi yang lebih jauh lagi diganti dengan sejumlah uang yang diserahkan sambil menortor kepada tuan rumah (biasanya ayah si pengantin perempuan).

Jumlah uang yang diserahkan tidaklah mempunyai ketentuan, namun tentunya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing. Tidak ada pencatatan atas jumlah uang yang diserahkan. Bagi warga yang ekonominya lumayan baik, tentu saja mampu memberi dalam jumlah yang lebih besar. Tradisi memberikan abit, salendang atau pun uang tidaklah menjadi sebuah keharusan. Seseorang tidak dilarang menghadiri pesta perkawinan walaupun tidak mampu memberikan apa-apa kecuali do’a atau diistilahkan “PASU-PASU” bagi pengantin.

Acara menortor pada malam hari tersebut bisa berakhir sampai pukul 03.00 WIB dini hari. Rombongan penutup biasanya diisi oleh pihak muda-mudi sebagai tanda perpisahan dan selamat jalan bagi rekannya yang mendahului mereka menikah. Lagu-lagu yang dipilih oleh pemain berdah pun mempunyai khas untuk acara penutup ini, yakni berjudul “IDONG-IDONG” yang berisi pesan-pesan perpisahan dan do’a kepada pengantin.

Bila mengamati lirik/syair lagu dari tembang pengiring yang dilantunkan oleh pemain berdah, dapat disimpulkan bahwa acara ini lebih dominan kepada adat Mandailing karena lagunya berbahasa Mandailing.

Keseokan harinya, pesta berlanjut. Ketika matahari merambat naik dan semakin terik, pengantin yang didandani pakaian teluk belanga (pakaian khas adat Melayu) diarak keluar rumah menuju halaman luas di perkampungan. Berjarak sekitar 100 meter dari rumah tempat pelaminan berada, dibuat sebuah anjungan darurat yang terbuat dari bambu, mirip seperti pelaminan berhiaskan kain panjang dan janur (daun kelapa yang masih muda). Anjungan ini diberi nama “NACAR”. Pengunjung ramai berkumpul dan berkeliling membentuk lingkaran. Dua pasang pemain pencak silat telah dipersiapkan. Dua orang persis berada di depan pengantin dan dua orang lagi berada di depan nacar. Diiringi gendang dari pemain zikir berdah, pemain pencak silat pun mulai beraksi semakin mendekat ke nacar disusul oleh pengantin dan keluarga pendampingnya  berjalan pelan-pelan mengikuti pemain pencak silat yang pada akhirnya kedua pasang pemain pencak silat itu pun bertemu di depan nacar dan mengakhirinya dengan bersalaman, bersamaan dengan itu, pengantin pun tiba di nacar dan duduk berdampingan. Acara selanjutnya adalah pemberian tepung tawar kepada pengantin sesuai urutan kekerabatan (suhut, hula-hula dan anak boru) dipandu oleh protokol.

Usai acara tepung tawar di nacar, pengantin kembali diarak ke rumah dan menuju pelaminan. Setelah pengantin duduk di pelaminan, acara tortor kembali digelar untuk sesi terakhir. Namun acara menortor pada siang ini hanya sebentar dan dilanjutkan dengan acara upah-upah. Di hadapan pengantin terletak daging upah-upah dari kambing yang telah disembelih semalam sore. Penyampaian kata upah-upah biasanya dimulai dari keluarga terdekat yang biasanya berisi do’a dan nasihat kepada pengantin dalam menjalani hidup berumah tangga.

Usai acara upah-upah, pengantin turun dari pelaminan. Dilanjutkan dengan acara pamitan kepada keluarga karena pengantin wanita pada sore hari itu juga dibawa oleh pengantin pria ke rumahnya di kampung halamannya. Acara pamitan ini sekaligus menutup acara pesta perkawinan atau acara pabagas boru tersebut.

Seperti itulah illustrasi acara adat istiadat pabagas boru bagi masyarakat Batak Muslim di Labura sebelum tahun 90-an. Namun berbanding situasi saat ini, banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi baik dari segi mata acara maupun hakikat dari adat setempat yang mengalami metamorfosis.

Dari serangkaian acara pabagas boru ala masyarakat Batak Muslim Labura ini, kelihatan bahwa acara tersebut mengadopsi tradisi tiga suku sekaligus, yakni Melayu, Batak Toba dan Batak Mandailing. Pencamburbauran tradisi tersebut membuat adat yang berlaku tersebut menjadi kabur dan tidak kelihatan identitas pribadinya. Namun, anggaplah bahwa adat tersebut sebagai adat tersendiri yang telah baku tanpa harus mengklaim bahwa adat ini adalah milik suku Batak Toba atau milik suku Melayu atau milik suku Batak Mandailing. Persoalan yang akan dibahas di sini adalah metamorfosa yang saat ini terjadi dan nyaris meninggalkan makna dan hakikat acara pabagas boru itu sendiri.

Saat ini, zikir berdah telah tiada. Zikir berdah telah diubah dan ditinggalkan dengan munculnya grup model baru bernama “Endeng-Endeng”. Mendengar kata “endeng-endeng”, yang terlintas di benak kita adalah kebudayaan adat Mandailing yang disertai gendang dan suling dengan lagu-lagu bersyair bahasa Mandailing. Isi liriknya adalah do’a bagi pengantin. Namun tidak demikian halnya, meskipun tidak boleh dinafikan bahwa ada beberapa lagu yang juga mengandung isi yang sama dengan esensi endeng-endeng ala Batak Mandailing.

Endeng-endeng yang ada di Labura ini memakai alat organ didampingi oleh gendang dan tamborin. Lagu-lagunya bukan saja lagu endeng-endeng melainkan lagu dangdut, lagu jawa seperti misalnya Lagu Gundul Pacul bahkan lagu India yang jauh meninggalkan hakikat dan koridor walimatul ‘ursy, atau menambah wacana baru dengan menyertakan nuansa kejawaan atau keiindiaan. Orientasinya bukan lagi adat, melainkan “happy dan enjoy”. Lagu apa pun jadi, asal bisa membuat senang dan acara menortor menjadi lebih antusias dan semarak. Tortor yang dilakukan pun terkadang seperti gaya orang mabuk di Diskotik, bergerak bebas sesuka hati. Selangkah lagi bermetamorfosis, endeng-endeng ini tidak mustahil menjadi ajang hedonisme, di mana para pemain endeng-endeng dan penortor sama-sama mabuk minum arak, karena orientasinya adalah enjoy, mirip seperti pesta merayakan tahun kelahiran dewa matahari di jaman kerajaan Romawi ribuan tahun yang lalu. Apakah adat istiadat masyarakat ini masih dalam tahap pencarian jati diri? Siapakah yang bertanggungjawab atas keutuhan, keberhasilan dan konformitas adat istiadat ini? Sangat sulit menemukan jawabnya. Penulis kurang memahami apakah di Toba atau di Mandailing ada komite atau semacam dewan yang mengawasi adat istiadat seperti yang ada di Daerah Istimewa Aceh. Yang pasti, di Labura tidak ada komite yang melindungi originalitas adat seperti ini. Hal ini sangat masuk akal, karena memang apa dan bagaimana patokan adat yang berlaku juga tidak pernah ada. Sehingga adat yang berlaku saat ini bergulir seperti bola di lapangan terbuka. Dia sangat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan keinginan komunitasnya.

Dari aspek sosialnya, walimatul ‘urusy yang ada sekarang telah bergerak jauh ke arah materialisme. Tradisi memberi sarung dan kain panjang masih terus berlanjut dan meningkat dari ketidakwajiban bergerak menjadi hampir wajib. Pemberian uang pada saat menortor saat ini menjadi hal WAJIB. Kalau tidak percaya, silahkan hadir di salah satu acara pabagas boru, anda akan melihat bahwa tidak ada satu orang pun yang tampil ikut menortor di depan pelaminan yang tidak menyerahkan sejumlah uang kepada pemilik acara. Bila seseorang tidak mempunyai uang, dia tidak akan menghadiri acara pesta adat tersebut. Jadi kesimpulannya, adat adalah uang. Yang tidak punya uang tidak beradat. Konyolnya, di setiap acara menortor, telah dipersiapkan panitia pendaftar yang akan mencatat berapa besar angka rupiah yang akan ditortorkannya. Hasil catatan ini akan menjadi dokumentasi bagi penyelenggara untuk menjadi panduan berapa besar yang akan dibayarkannya kepada orang lain, ketika orang  itu menyelenggarakan pesta. Jadi, PESTA ADAT telah berubah menjadi PESTA UANG. Inilah pembelajaran yang buruk tentang pergeseran nilai dan makna adat budaya di mata generasi baru, seolah-olah eksistensi adat budaya adalah sesuatu yang menyulitkan. Tidak sedikit terdengar suara-suara masyarakat yang mengeluhkan kesulitan di dalam adat yang berlaku saat ini. Terlebih bagi mereka yang berada pada tingkat ekonomi pas-pasan. Puncak kesulitannya adalah manakala penyelenggara pesta adalah saudara dekat, teman, tetangga atau kerabat akrab yang sangat tidak mungkin untuk tidak dihadiri. Ujung-ujungnya harus meminjam uang agar bisa menghadiri pesta pernikahan tersebut. Bayangkan, begitu sulitnya adat  di Labura saat ini.

Yang paling fatal dari dampak materialisasi adat ini adalah berubahnya niat suci untuk berwalimatul ‘ursy agar kelak anaknya yang menikah menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah dinodai oleh mimpi-mimpi untuk menerima uang dalam jumlah yang besar, apalagi dia sadar bahwa selama ini dia telah banyak mengeluarkan isi dompetnya di saat orang lain berpesta, sangatlah wajar bahwa dia dipengaruhi oleh harapan-harapan itu. Nah, apakah tujuan untuk menyelenggarakan acara walimatul ‘ursy dari aspek spritualnya akan tercapai? Tentu saja tidak. Karena materiaisme telah menguasai niat dan fikiran kita.

Bila dikaji dari peran adat, apapun definisi, batasan atau pengertian adat, tetaplah adat adalah lembaga yang harus bisa berperan memanusiakan manusia atau lembaga yang bisa membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah, yang buruk menjadi baik, yang jelek menjadi cantik, yang lemah menjadi kuat, yang rusak menjadi benar, atau apa pun istilahnya, namun begitulah idealnya ADAT. Yang besar membantu yang kecil, yang kecil menghormati yang besar, sehingga tercipta kesetaraan dalam hidup manusia, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Itulah idealnya manusia yang memegang teguh adat. Jadi kesimpulannya, adat harus membuat manusia menjadi lebih baik. Manakala adat membuat manusia semakin sulit, sudah saatnya adat ditinggalkan. Untuk apa beradat, kalau akhirnya mempersulit bagi diri sendiri.

PENUTUP

Tidak jelasnya identitas adat budaya yang berlaku di komunitas Batak Muslim di Labura khususnya dalam hal pesta pabagas boru menjadi pemicu bergulirnya dinamika tanpa batas seperti bola bergulir di lapangan lepas, bergerak kemana saja arah yang diinginkan komunitasnya. Sangatlah perlu untuk merumuskan suatu kepastian adat budaya sehingga mempunyai standar pasti. Hal ini sesungguhnya dapat diwujudkan dengan membuat diskusi terbuka yang diikuti seluruh stakeholder termasuk pemuka-pemuka adat untuk mendapatkan sebuah kesepakatan tentang pola adat yang akan diterapkan.

Sudah saatnya mengembalikan hakikat adat budaya, yakni memudahkan kehidupan manusia dalam mencapai tujuan hidupnya, tidak sebaliknya adat membuat wacana baru yang mempersulit hidup dan ruang gerak manusia. Salah satu hal nyata adalah menghilangkan kesan materialisasi adat budaya ke arah sejatinya, yaitu mendudukkan setiap anggota masyarakat sama rata, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah untuk menjamin kepemilikan harkat dan martabat manusia sebagai hamba Allah tanpa eksklusivisme dan tirani.

Untuk menjaga kelestarian adat yang terbebas dari penyelewangan dan modifikasi yang mengarah pada larinya hakikat adat budaya, dipandang perlu untuk membentuk komite pengawasan adat budaya setempat.

Demikianlah tulisan ini disampaikan, semoga bermanfaat bagi kelestarian adat budaya di Labura demi tegaknya harkat dan martabat manusia sebagai makhluk berbudaya.

Adakah pembaca budiman yang ingin memberi komentar?

Copy dari http://amrimunthe.wordpress.com/2012/04/03/endeng-endeng-ala-masyarakat-batak-muslim-labura-sebuah-metamorfosa-hakikat-nilai-adat-dari-sakralisme-menuju-hedonisme-dan-dari-sosialisme-menuju-materialisme/

2012 : Berdebar-debar

Banyak yang percaya dengan ramalan Suku Maya tentang kiamat pada tahun 2012. Hingga beberapa produsen film pun membuat skenario kehancuran bumi. Jika anda percaya tentang kiamat tahun ini berdasarkan suku Maya, berarti anda termasuk orang yang tidak dapat dipercaya.

Kepercayaan kuno berdasarkan perhitungan-perhitungan manusia tidak lah bisa dipercaya. Sebagai hamba yang taat kepada Allah SWT, kita hanya mempedomani Al Quran dan Hadits.

Biarlah dada ini berdebar kencang pada tahun 2012. Debaran karena keberhasilan setelah berusaha keras. Usaha yang penuh pengharapan supaya tetap dapat berkreasi dan berprestasi. Dunia 2012 adalah dunia perubahan bukan dunia kematian. I like 2012.

Isra’ Mi’raj (bag.2)

Semasa Mikraj (Naik ke Hadhratul Qudus Menemui Allah)

Didatangkan Mikraj (tangga) yang indah dari syurga. Rasulullah SAW dan Jibrail naik
tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).

a) Langit Pertama: Rasulullah SAW dan Jibrail masuk ke langit pertama, lalu
jumpa dengan Nabi Adam AS. Kemudian dapat melihat orang-orang yang
makan riba’ dan harta anak yatim dan melihat orang berzina yang rupa dan
kelakuan mereka sangat huduh dan buruk. Penzina lelaki bergantung pada
susu penzina perempuan.

b) Langit Kedua: Nabi SAW dan Jibrail naik tangga yang kedua, lalu masuk dan
bertemu dengan Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS.

c) Langit Ketiga: Baginda naik langit ketiga dan bertemu dengan Nabi Yusuf AS.
d) Langit Keempat: Baginda naik tangga keempat dan bertemu dengan Nabi
Idris AS.

e) Langit Kelima: Baginda naik tangga kelima dan bertemu dengan Nabi Harun
AS yang dikelilingi oleh kaumnya Bani Israel.

f) Langit keenam: Baginda naik tangga langit keenam dan bertemu dengan
nabi-nabi.

g) Seterusnya dengan Nabi Musa AS, Rasulullah mengangkat kepala (disuruh
oleh Jibrail) lalu dapat melihat umat baginda sendiri yang ramai termasuk
70000 orang yang masuk syurga tanpa hisab.

h) Langit Ketujuh : Baginda naik tangga langit keyujuh dan masuk langit ketujuh
lalu bertemu dengan Nabi Ibrahim Khalilullah yang sedang bersandar di Baitul
Ma’mur dihadapi oleh beberapa kaumnya. Kepada Rasulullah SAW Nabi
Ibrahim AS bersabda. “Engkau akan berjumpa dengan Allah pada malam ini.
Umatmu adalah umat terakhir dan terlalu dha’if , maka berdoalah untuk
umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syuga iaitu La Haulawala
Quwatta Illa Billah. Mengikut riwayat lain, Nabi Ibrahim AS bersabda :
“Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka, syurga itu baik
tanahnya, tawar airnya dan tanamannya ialah lima kalimah iaitu :
Subhanallah, Walhamdulillah, Wa La Ila Haillallah Allahuakbar dan La
Haulawala Quwatta Illa Billahil Azim. Bagi orang yang membaca setiap
kalimah ini akan ditanamkan sepohon pokok dalam syurga.

i) Setelah melihat beberapa peristiwa lain yang ajaib, Rasulullah dan Jibrail
masuk ke dalam Baitul-Makmur dan bersembahyang (Baitul-Makmur ini
betul-betul di atas Baitullah di Mekah).

j) Tangga Kelapan: Di sinilah disebut “Al – Kursi” yang berbetulan dengan dahan
pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah SAW menyaksikan pelbagai keajaiban
pada pokok itu. Sungai air yang tak berubah, sungai susu, sungai arak dan
sungai madu lebah. Buah, daun-daun, batang dan dahannya berubah-ubah
warna dan bertukar menjadi permata-permata yang indah. Unggas-unggas
emas berterbangan. Semua keindahan itu tak terperi oleh manusia.

k) Baginda Rasulullah S.A.W dapat menyaksikan pula sungai Al-Kautsar yang
terus masuk ke syurga. Seterusnya baginda masuk ke syurga dan melihat
neraka beserta dengan malaikat Malik penunggunya.

l) Tangga kesembilan: Di sini berbetulan dengan pucuk pokok Sidratul-
Muntaha. Rasulullah SAW masuk di dalam nur dan naik ke Mustawa dan
Sharirul-Aqlam. Lalu dapat melihat seorang lelaki ghaib di dalam nur ‘Arasy,
iaitu lelaki di dunia yang lidahnya sering basah berzikir, hatinya tertumpu
penuh kepada masjid dan tidak derhaka kepada ibu bapanya.
m) Tangga Kesepuluh : Baginda Rasulullah sampai di Hadhratul-Qudus dan
Hadhrat Rabbul-Arbab lalu dapat menyaksikan Allah S.W.T dengan mata
kepalanya, lantas sujud. Kemudian berlakulah dialog antara Allah dan
Muhammad, Rasul-Nya.

Allah SWT: Ya Muhammad

Rasullah: Labbaika

Allah SWT: Angkatlah kepalamu dan bermohonlah, Kami perkenankan.

Rasulullah: Ya Rabb, Engkau telah ambil Ibrahim sebagai Khalil dan Engkau
berikan dia kerajaan yang besar. Engkau berkata-kata dengan Musa. Engkau
berikan Daud kerajaan yang besar dan dapat melembutkan besi. Engkau
kurniakan kerajaan Sulaiman yang tidak Engkau kurniakan kepada sesiapa
pun dan memudahkan Sulaiman menguasai jin, manusia, syaitan dan angin.
Engkau ajarkan ‘Isa Taurat dan Injil. Dengan izin-Mu, dia dapat
menyembuhkan orang buta, orang sufaq dan menghidupkan orang mati.
Engkau lindungi dia dan ibunya daripada syaitan.

Allah SWT : Aku ambil mu sebagai kekasih. Aku perkenankan mu sebagai
penyampai berita gembira dan amaran kepada umatmu. Aku buka dadamu
dan buangkan dosamu. Aku jadikan umatmu sebaik-baik umat. Aku beri
keutamaan dan keistimewaan kepada mu pada hari kiamat. Aku kurniakan
tujuh ayat (surah Al Fatihah) yang tidak aku kurniakan kepada sesiapa
sebelum mu. Aku berikan mu ayat-ayat di akhir surah al Baqarah sebagai
suatu perbendaharaan di bawah “Arasy”. Aku berikan habuan daripada
kelebihan Islam, hijrah, sedekah dan amar makruf dan nahi munkar. Aku
kurniakan panji-panji Liwa – ul – hamd. Maka Adam dan semua yang lainya di
bawah panji-panji mu. Dan aku fardukan atas mu dan umat mu 50 (waktu)
sembahyang.

Selesai munajat, Rasulullah SAW dibawa menemui Nabi Ibrahim AS kemudian nabi
Musa AS yang kemudiannya menyuruh Rasulullah SAW merayu kepada Allah S.W.T
agar diberi keringanan, mengurangkan jumlah waktu sembahyang itu. Selepas
sembilan kali merayu, (setiap kali dikurangkan 5 waktu), baginda tidak mahu lagi
merayu kerana malu kepada Allah, dan akhirnya Allah perkenan memfardukan
sembahyang 5 waktu sehari semalam tetapi mengekalkan nilai pahalanya sebanyak
50 waktu juga.

Selepas Mikraj

Rasulullah S.A.W turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-
Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang
sama. Pengajaran penting daripada Israk dan Mikraj

Menurut Syeikh Prof Dr Yusuf al-Qaradawi, menerusi peristiwa berkenaan, kita boleh
fokuskan kepada dua perkara penting, pertama berhubung dengan Masjid al-Aqsa
dan hubungan dengan Masjid al-Haram, kedua mengenai kewajipan solat yang
diserahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Persoalannya di sini, mengapa Allah
tidak memperjalankan baginda terus ke langit ketujuh, tetapi singgah dahulu di
Masjid al-Aqsa? Ini kerana Allah mahukan agar baginda bertemu dengan para anbiya
terlebih dahulu bagi menyatakan sokongan padu mereka terhadap kerasulan Nabi
Muhammad, di samping mahu baginda singgah di sebuah tempat yang penuh
dengan keberkatan daripada Allah SWT seperti yang disebut dalam ayat pertama
surah al-Israk. Kepimpinan baginda menjadi titik tolak penyatuan akidah dan syariat
di kalangan para anbiya, justeru baginda menjadi imam solat kepada mereka, iaitu
kepimpinan bersifat global, bukan hanya untuk kaum atau bangsa tertentu, malah
buat manusia sejagat yang terdiri daripada pelbagai etnik, suku kaum, bangsa yang
menunjukkan kebesaran Allah dalam mencipta makhluk bernama manusia.
Hubungan Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsa tidak dapat disangkal oleh individu
Muslim yang sayangkan agamanya. Ini kerana dari segi sejarah menunjukkan Masjid
al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam sebelum berpindah kepada Masjid al-
Haram hingga ke hari ini.

Justeru adalah menjadi tanggungjawab semua pihak khususnya di kalangan umat
Islam membebaskan Masjid al-Aqsa dari cengkaman rejim Yahudi-Israel, kerana ia
ada kaitan dengan persoalan akidah mereka. Pengajaran kedua terpenting menerusi
peritiwa Israk dan Mikraj, ialah pelaksanaan ibadat solat lima waktu, ia merupakan
mikraj (lif/tangga) seorang Muslim menghadap Tuhannya, kepentingan solat juga
tidak dapat dipersoal oleh mana-mana individu Muslim, walau apapun jawatan dan
kedudukannya dalam masyarakat. Apabila solat seseorang itu beres dengan
Tuhannya, maka akan bereslah urusan hidupnya yang lain, hubungan roh seorang
muslim itu sangat penting dengan Tuhannya, justeru ia ada kaitan dengan kedua-dua
masjid yang disebutkan di atas. Apabila seseorang itu menunaikan solat dengan
penuh khusuk dan tawaduk, dia seolah-olah sedang berkata-kata dengan Allah, ia
terserlah ketika membaca al-Fatihah tujuh belas kali sehari semalam, untuk
menyatakan munajat dan aduannya kepada Allah bagi memudahkan tugas dan
peranannya untuk menyeru manusia ke jalan kebenaran. Wallahua’lam.