RA UMMI FAUZIAH RANTAUPRAPAT

RA (Raudhatul Athfal) Ummi Fauziah Rantauprapat terletak di Jalan Cemara No.89A Padang Matinggi Rantauprapat – Labuhanbatu – Sumatera Utara.

Berdiri sejak tahun 1992 dibawah asuhan (Alm.) H. Bahroem Dalimunthe dan Hj. Fahimah Pohan. Mengasuh pendidikan setingkat TK (Taman Kanan-kanak) dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

RA Ummi Fauziah memberikan pendidikan Al Quran dan pendidikan Akhlaq, meskipun demikian tetap mengenalkan membaca menulis dan berhitung bagi santriwan dan santriwati. Beberapa fasiltas yang telah tersedia :

  • Ruang bermain Indoor
  • Ruang belajar permanen representatif
  • Taman yang luas
  • Perpustakaan
  • Mushalla
  • Tanaman buah
  • UKS
  • Lingkungan Free Wi-Fi

Dengan pengalaman menerapkan metode Iqra’, RA Ummi Fauziah Rantauprapat tetap menjadi pilihan warga Rantauprapat. Untuk informasi dapat menghubungi 0624-22339, WhatsApp 082369888200 dan Email/YM : abdul_hakim_daly[at]yahoo.com.

Advertisements

Pernah Muda

Saat itu saya dan alm. ayahanda sedang sentai di teras rumah. Mengobrol kisah-kisah masa lalu yang patut di contoh dan bagaimana menghadapi masa depan. Sebagai anak paling ‘bontot’ dari sepuluh bersaudara tentunya saya paling minim pengalaman.
Beliau berkisah tentang pertemuannya dengan seorang eksekutif muda yang hebat. Nyaris sempurna untuk kelas pemuda Sumatera Utara yang merantau di Jawa. Si pemuda dengan sombongnya mengatakan bahwa dia adalah satu-satunya pemuda yang sukses dari Banten hingga Banyuwangi dengan bisnis properti, transportasi bahkan sandang dan pangan.
Alm. Ayahanda hanya menjadi pendengar setia hingga si pemuda tersadar. Bahwa dia terlalu banyak bicara. Maka, alm. Ayahanda pun angkat bicara.
Hai Anak muda, ilmumu memang tinggi, sukses di dunia bisnis bahkan hebat di diplomatik. Ingatlah anak muda, saya juga seperti anda, bahkan saya dinobatkan sebagai Keluarga Sakinah di masa lalu. Menguliahkan kesepuluh putra-putri saya. Anda jangan sombong, saya pernah muda, tapi anda belum pernah tua.
Hm..

Aisyah Salsabila (caca)

Caca sudah 10 bulan, udah punya gigi 5 (bawah ada 3). Udah bisa berdiri tapi belum jalan. Kalau nangis, kencang sekali suaranya. Minumnya banyak, dari dodot atau ASI sehingga badannya padat, ompolnya banyak sekali.

Gigi caca tajam, kalau menggigit meninggalkan bekas. Umminya sering nangis gara-gara digigit sambil nyusu. Ih.. caca, gak kasian liat ummi sampe nangis gitu???

Hari ini tahun 1979 silam

Tak dapat kubayangkan bagaimana Ibunda tercinta saat melahirkanku. Sebagai anak ke 10 tentunya kandungan ibuku sudah sangat lemah. Tetapi Dia yang berkehendak. Hingga aku dikaruniai anak satu, ibunda tercinta cukup sehat dan tegar.

usia 3 bulan, saat di mandiin… maaf kalo ada yang di sensor

Sepeninggal ayahanda 20 hari lalu, suasana di rumah berubah. Kesedihan tak bagai tak berujung. Pagi tadi, ibunda terlihat terisak, dtangannya ada syal hijau dan sprei kuning. Keduanya biasa dibawa dalam tas merah untuk sprei saat mendiang ayah cuci darah. Selama 2 tahun setiap senin kamis kedua benda itu tak pernah tertinggal.

Terima kasih Ma.. merawatku, menjagaku, menyekolahkanku hingga saat ini tak pernah menuntut apapun dariku.

Ulang tahun ke 5, seru…

Beratnya 4 Kg.

” Sakit bang, sakit..” begitu sering terucap saat Wina hendak melahirkan anak pertama kami. Aku hanya menasehatinya agar selalu mengingat Allah SWT. Bermohon kepadaNya agar diberi kemudahan dan tidak mengingkari kekuasaanNya.wina
Bermula pada hari selasa 15/4/2008, saat menjemput Wina di rumah mertua siang hari sepulang dari mengajar. Katanya perutnya udah mules-mules. Langsung saja kularikan ke klinik Hj. Nani lebih kurang 6 km dari kediaman kami. Setelah diperiksa, saran bu bidan jika malam mulesnya bertambah sering jangan ragu untuk datang.
Benar, mulesnya jadi sering sekali. Waktu menunjukkan pukul 20.30. Sebelum ke bidan ku ajak Wina ke rumah kak Nila jarak 50 meter untuk menanyakan hal tersebut. Pesan kak Nila lebih dibanyakin gerak dan kalau pandangan sudah gelap juga tak kuat berjalan itulah saatnya. Menurut prediksiku Wina akan partus malam ini juga dan sebagai suami ku harus siap segalanya. Mental, fisik dan kejernihan berfikir. Don’t panic!
Kusiapkan mobil dan barang-barang untuk bersalin di masukkan. Rencananya, mertua akan ikut serta untuk ke klinik. Saat berpamitan dari rumah waktu menunjukkan pukul 22.14. Wina sudah berulangkali jongkok kesakitan. Kami berangkat setelah menjemput mertua di rumah stasiun. Sesampai di klinik, kata bidan udah “buka IV” dari 10 yang akan terbuka. Walaupun semua sudah dipersiapkan tetapi ada saja yang kurang.
Aku pulang lagi untuk menjemput kasur, bantal, kain buruk, baju kaos dan beberapa pernik yang sudah dimasukkan dalam kantongan. Dengan kecepatan sedang kulajukan mobil dengan hati-hati. Bersalawat merupakan kebiasaan baru yang sering kulakukan saat menyetir mobil.

winaSesampai klinik dalam kamar, Nan Tulang (sebutan untuk mertua) sedang membantu Wina dalam merenggangkan peranakan. Oh, badanku jadi ikutan mules. Sekitar pukul 2 dini hari, kubangunkan perawat jaga. Wina sudah dipapah ke rusbang dalam kamar. Tak berapa berselang, bidan Hj. Nani datang. Beliau memeriksa dan menyiapkan peralatan. Wina berjuang, mengatur nafas, mengumpulkan tenaga lalu … ah, tak tau aku apa yang yang harus kutuliskan. Disampingnya terus kuberikan semangat dan mengucapkan doa-doa.

Akhirnya bayiku keluar dan diletakkan di perut Wina. “Apa kelaminnya?” tanya istriku. “Perempuan dik” jawabku. “Alhamdulillah” kami serentah bersyukur, dan setelah tali pusernya di potong, pecahlah tangis bayi kami. Kulihat jam menunjukkan 2 lewat 23. Semenit lalu anakku lahir. Tapi setelah itu darah tak juga kunjung berhenti( blooding), sampe-sampe dinding kamar ada yang terpercik. Banyak sekali… aku khawatir. Tetapi bidan sigap dengan memasang infus. Awalnya jarum dipasang di tangan kanan, tapi nadinya gak dapat. Pindah ke tangan kiri, uh.. akhirnya. Kulihat wajah istriku pucat sekali. Sementara perawat terus saja mengeluarkan sisa-sisa gumpalan dari rahimnya. Entah mengapa, kali ini aku kuat untuk melihat darah. Biasanya, saat melihat darah menetes saja dari jari yang tersayat aku panik. Inikah yang namanya semangat? Masih sempat istriku nanya sama Bidan “Lebar sobeknya Bu?, kalo enggak lebar gak usah di heting”. Apa pulak istilah heting itu, gumamku.”Koq, gitu tanyaku”. Istriku maen mata…

Aku berwudhu dan saat aku kembali anakku di ‘bedung’, kunyalakan laptop dan mem-fotonya. Wah… matanya terbuka.

klik, klik dan klik. Lalu ku azankan. Mau menangis rasanya. Kutanyakan perawat, “Udah ditimbang, mbak?”

“Sudah, beratnya 4 kg” jawabnya santai. Haaaaa…..!!