Membangun Internet Desa

Membangun desa dengan literasi digital merupakan gagasan pemerintah mewujudkan pemerataan pembangunan. Dengan dana yang melimpah setiap tahun, maka desa bisa membuat akses internet gratis di area masing-masing.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan mewujudkan hal ini yakni :
1. Infrastruktur internet
2. Pemeliharaan bulanan, semester dan tahunan
3. Biaya bulanan.
Ketersediaan dana masing-masing desa memang riskan untuk diselewengkan dan Mudah Sekali Jadi Temuan. Untuk itu, diharapkan Pak Kades hati-hati dalam penggunaan dana desa.
Baik, kita ke pembangunan infrastruktur. Jika desa anda jauh dari kota dan jauh dari sumber internet, silahkan menggunakan opsi berikut :
a. Satelit
b. Point to point W-LAN
c. LTE dari 4G

Satelit
Menggunakan jaringan internet satelit terbentang dari Sumatera Utara hingga Maluku. Mengapa Aceh dan Papua tidak direkomendasikan? karena jangkauan satelit tidak sebaik di area yang disebut diatas. Biaya pemasangan satelit ini paling murah Rp.10 jutaan, tergantung wilayah. Kemudian biaya bulanan untuk kecepatan 2 mbps sekitar Rp.6 jutaan. Yang perlu jadi catatan jika menggunakan koneksi satelit tidak cocok untuk aplikasi Game Online. Karena latency yang cukup besar serta rentan putus karena cuaca buruk.

Point to point Wireless LAN
Ini yang paling banyak digunakan di desa se Indonesia, karena tarif bulanan bisa Rp.1 jutaan. Nah, bagaimana caranya? Jika desa tersebut masih dalam jangkauan terbaik sinyal (freq 5 GHz/2,4GHz) sekitar radius udara 30 km, maka biaya membangun tower antara Rp.20 juta hingga Rp.35 jt. Dengan syarat sumber internet juga sudah memiliki tower.
Contohnya di Kab.Labuhanbatu dengan luas 2.562,01 km² memiliki 9 kecamatan. Wilayah barat daya hingga utara nya adalah perbukitan. Tetapi wilayah timur laut tanahnya landai hingga bibir pantai selat malaka. Sehingga cocok menggunakan point to point W-LAN. Kota Rantauprapat memiliki beberapa jalur fiber optic dari beberapa perusahaan layanan internet. Ada Telkom, Indosat, Icon+.
Untuk itu dibutuhkan tower utama yang bisa menyalurkan ke desa-desa. Nah, sudah ada StatioNet Wireless yang melayani desa-desa di Labuhanbatu. Desa cukup menganggarkan pembangunan tower jika belum memiliki, jika sudah memiliki tinggal mengarahkan antena ke tower Stationet.
Biaya pembangunan tower kisaran Rp.18 juta s.d 23 juta. Sudah termasuk perangkat koneksi baik indoor dan outdoor. Itu menggunakan tower triangle dengan ketinggian 25 meter.

Jaringan 4G
Ini buat desa yang memiliki anggaran yang relatif kecil. Memanfaatkan jaringan 4 G (Telkomsel, Indosat, XL, Bold, Tri atau Smartfren). Alat yang dibutuhkan pastinya Modem 4G, penguat sinyal 4G, router dan Accesspoint 2,4GHz indoor dan outdoor.
Biaya awal sekitar 7 s.d 9 juta tergantung jarak desa ke Tower 4G. Bagaimana dengan biaya bulanan ? Jika biaya < Rp. 1 juta untuk paket data Telkomsel sekitar kuota 210 Gb. (35Gb x 6. @Rp.160 rb). Tentu pengaturan kuota harus selektif di router. Berapa kecepatan tiap user yang harus di salurkan, jangan sampai over kuota menyebabkan biaya bulanan menjadi membengkak.
Kecepatan jaringan 4G dibeberapa lokasi di Rantauprapat bisa 10 mbps, tentu berbeda di lokasi anda. Rata-rata penggunaan hingga 120 Gb untuk pengguna sedang, ini bisa diatur dengan router.
Kembali kepada Pak Kades, mau menggunakan jaringan yang mana. Tentunya, hal ini juga sangat berdampak untuk pemilihan kepala desa di periode berikutnya. Hmm…

Advertisements

Membangun Koneksi Internet di Labuhanbatu

Dipenghujung tahun 2017 lalu StatioNet Wireless mendapat calon pelanggan di Pangkatan sepuluh tepatnya sebuah Cafe. Jarak tempuh +15 km dengan medan sedikit berbukit. Tetapi setelah dihitung kembali ternyata syarat fresnel zone terpenuhi jika masing-masing antena diletakkan pada ketinggian 28 meter.
Hingga di awal 2018 kembali mendapat calon pelanggan, kali ini seorang anggota dewan perwakilan rakyat. Lokasi tak jauh + 2km dengan medan penuh dengan tingginya pohon sawit.
Meskipun pelanggan bulanan mulai bertambah, bukannya tidak ada kendala pada pelanggan lama. Terutama yang berada di pinggiran sungai bilah, seorang tentara yang bertugas di lapas. Penyakitnya cuma satu, CPE yang dipasang sering diskonek bahkan hang. Selain dari sinyal yang terinterverensi ternyata CPE tersebut memang termasuk gagal produk.
Proyek Haky Hotspot di Ujung Padang
Pada pertengahan maret 2018 saya kedatangan seorang Danramil di Labuhanbatu utara. Konsultasi untuk pemasangan jaringan di kantor Koramil. Ada sedikit trauma untuk wilayah utara mengingat adanya bukit di sekitar Berangir dan Marbau Selatan.
Bukit tersebut membuat kebutuhan infrastruktur menjadi tinggi. Tower minimal ketinggian 40 meter kedua sisi, juga radio harus dengan power diatas 25 dBm dan antena 27 dBi.
Tetapi ada satu lokasi yang menghapus kegalauan tersebut, yakni bukit gundul. Di bukit tersebut telah berdiri tower milik Telkom dan Poldasu. Sehingga saya sampaikan jika ingin wilayah utara dicover yang aman memasang point of present di gunung tersebut.


Akhirnya, di bulan april 2018 koneksi berhasil dari StatioNet ke gunung gundul dengan jarak tempuh 27 km. Beberapa lokasi seperti Desa Ujung Padang dibangun Hotspot. Desa Babussalam juga dibangun Hotspot. Desa Berangir tepatnya di Madrasah PTP VI juga dibangun Hotspot.

Continue reading

Kunjungan Industri Mahasiswa Informatika

Semester genap tahun akademik 2017-2018 sudah berjalan, banyak pekerjaan yang menumpuk diawal semester ini. Program kerja yang pertama telah terlaksana yakni seminar proposal skipsi yang sudah berjalan pada gelombang kedua. Ada 57 judul proposal skripsi yang dinyatakan lolos dan dilanjutkan ke tahap selanjutnya. Baru saja menghela nafas menyusul program kerja kunjungan industri mahasiswa semester delapan untuk memenuhi mata kuliah praktek kerja lapangan.

Sebait pepatah terucap banyak berjalan banyak dilihat langkah kanan untuk kebaikan, sangatlah perlu diaplikasikan untuk menata masa depan.  Begitu juga mahasiswa semester akhir ini yang perlu melihat dunia luar kampus terutama industri informatika.

Meskipun berdomisili di kabupaten yang jauh dari ibukota provinsi, harapan kita semua para ‘agen perubahan’ ini mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja terutama jurusan informatika. Maka, 13 Maret 2018 lalu ada dua perusahaan yang dikunjungi yakni PT. DAYA MEGA PRATAMA dan PT. LOGIKREASI UTAMA. Keduanya berada di Gedung Antara Lantai 3 Jalan Putri Hijau Medan Sumatera Utara.

Ada 97 mahasiswa dari program studi Teknik Informatika Univ. Al Washliyah Labuhanbatu yang ikut serta dalam kunjungan industri ini. Didampingi 5 dosen pamong dan utusan dari rektorat, disambut hangat oleh kedua perusahaan yang letaknya berdampingan. Satu persatu pihak perusahaan mempresentasikan ilmu pengetahuan dan berbagai produk jadi yang kekinian. Begitu juga dengan sharing knowledge membuat mahasiswa merasa waktu begitu cepat berlalu. Sehingga ada beberapa mahasiswa yang merasa tidak puas kembali mengikuti presentasi ulang. Dipenghujung acara ada beberapa pemateri yang memberikan doorprize kepada mahasiswa, beberapa mahasiswa mendapat cinderamata dari pihak sponsor. Dari fakultas tentunya telah menyiapkan vandel kenang-kenangan untuk perusahaan.

Rangkaian kegiatan ini sebenarnya ada tiga tahapan. Tahap pertama berupa pembekalan kepada mahasiswa. Materi yang disampaikan berupa wejangan keagamaan, teknologi kekinian, metodologi riset dan etiket. Lalu tahapan kedua melakukan kunjungan ke perusahaan untuk mendapatkan informasi teknologi kekinian serta pengaplikasian riset dan etiket. Terakhir tahap ketiga mahasiswa melakukan presentasi hasil kunjungan didepan dosen pamong serta mahasiswa lainnya.

Sehubungan kegiatan ini hanya ada sekali selama mengikuti perkuliahan, maka dirangkailah dengan liburan melepas penat ke daerah wisata. Menginap satu malam di Villa Mas Berastagi serta berbelanja di seputaran Pasar Buah menjadikan perjalanan menjadi menyenangkan. Yach.. meskipun pada waktu menuju pulang menuju Rantauprapat, Bus3 mengalami kerusakan sebelum memasuki Kota Pematang Siantar.

 

Ada cerita tak enak dibalik kerusakan bus ini, karena jadwal makan siang menjadi  makan sore serta rencana jalan-jalan di Kota Pematang Siantar tak dapat dilakukan. Meskipun akhirnya hanya bisa mengambil kenangan di Taman Bunga bersama Patung Becak BSA.

Surat Seorang Dosen Kepada Calon Istrinya

Sayang, bila kita menikah nanti, tolong kencangkan ikat pinggang. Bukan abang perhitungan memberimu makan, tetapi gaji abang mengajar satu bulan masih satu jutaan. Padahal uang listrik, tagihan air, serta iuran keamanan lingkungan dan pengangkutan sampah juga butuh dipikirkan.

Sayang, kamu harus tahu kenyataan pahit. Dosen itu kadang cuma menang nama besar, sedangkan gajinya kecil. Apalagi kalau jadi dosen tidak tetap, rasanya ingin meratap akibat kuliah tinggi-tinggi namun hidup melarat. Jangan heran kalau baju yang abang kenakan itu-itu saja, sebab abang mesti memutar otak untuk menabung di tengah keuangan yang super cekak. Tujuannya jelas agar kita bisa menikah, meski harus mengajakmu hidup dalam rumah tangga serba susah.

Sayang, jadi dosen terlihat gagah. Idaman setiap orang tua untuk dijadikan menantu, dipikir bisa menjamin kehidupan anaknya bahagia. Kenyataannya menyangkut kebahagiaan diri sendiri saja, seorang dosen tidak tetap kerap mengelus dada. Ada yang gajiannya setelah satu semester, sudah begitu kurang dari lima juta rupiah.

Sayang, kalau berhenti jadi dosen juga bingung. Sia-sia sekali ilmu yang sudah dipelajari hingga bergelar Magister. Miris memang, tapi inilah kenyataannya. Kamu harus tahu, dosen honorer itu ibarat hidup segan mati tak mau. Cuma harus sabar, barangkali bisa lolos sertifikasi dosen suatu ketika. Setidaknya dapat tunjangan sertifikasi bisa lumayan, meskipun mengurus NIDN tak semudah membalik telapak tangan.

Sayang, bila kita menikah nanti tolong pintar mengatur keuangan. Tenanglah seluruh gaji akan abang serahkan padamu, soalnya kalau abang ambil sedikit saja, khawatir kamu ngambek. Sudahlah gaji sedikit, masih dipotong pula untuk jatah pribadi. Abang harus sadar diri, kamu mau menikah dengan abang saja itu suatu keberuntungan.

Sayang, saat berumah tangga nanti hal yang paling dikhawatirkan itu saat dapat undangan pernikahan. Mau menyumbang sedikit, taruhannya harga diri. Kalau menyumbang agak banyak, bisa-bisa puasa akibat di akhir bulan beras tak ada lagi. Apalagi kalau sudah musim nikah, dalam satu bulan bisa dapat undangan berkali-kali.

Sayang, meski begitu percayalah abang akan berusaha cari kerjaan sampingan. Jadi supir ojek berbasis aplikasi online misalnya. Meski agak cemas juga kalau sampai yang order itu ibu dan ayahmu, kan nggak mungkin abang suruh bayar juga. Akhirnya, mau tak mau abang mesti jadi pahlawan kesiangan. Membayari mereka, dengan kebesaran jiwa seperti seorang pejuang yang ikhlas teriak merdeka meski peluru melesat tepat di jantungnya.

Sayang, percayalah. Demi kolor yang jarang abang ganti, demi kaus kaki yang sudah bolong jempolnya, serta sepatu yang dipaksa mengkilap pakai semir padahal usianya sudah tua dan butuh dimuseumkan, maka abang berikan kesaksian dengan jujur bahwa abang akan sungguh-sungguh jadi dosen yang baik meski gajinya belum besar, karena mengajar itu sebuah jalan memanusiakan manusia. Oleh sebab itu, abang selalu bangga dengan profesi ini serta mempercaya setelah kita menikah nanti akan ada jalan rezeki lain yang dibukakan Tuhan.

Dikutip dari https://www.facebook.com/groups/dosen.muda.indonesia/permalink/1271896256245657/

Mendirikan tower triangle (bagian 1)

Tower triangle yang biasa digunakan sebagai gantungan antena dapat dibangun sendiri atau menggunakan jasa pasang tower. Pada tulisan kali ini ditujukan kepada pemula dimulai dengan menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Teknik pemasangan yang digunakan adalah manual dengan mengandalkan tenaga orang sehingga dibutuhkan 3-4 orang.

Langkah awal adalah menyiapkan lokasi dimana didirikan tower tersebut. Begitu juga lokasi kemana kawat pengaman tower dipasang.

Jika menggunakan tiga sudut maka bukaan sudut adalah 120° sehingga terdapat sudut yang sama besar. Jarak antara pondasi tower dengan pondasi kait kawat pengaman minimal 7 meter untuk tower ketinggian < 20meter. Semakin tinggi tower semakin besar bentangan kawatnya.

Tower dengan ketinggian 20 meter bisa menjangkau Point to Point di area datar seperti pantai hingga 15 km menggunakan BulletM2HP + grid 27dBi.

Maka membangun tower dibutuhkan seperti :

  1. Tower @5mtr : 4 stack
  2. Kawat licin 2,5mm
  3. Turnbuckle hook+eye M12
  4. Mur baut 14
  5. Tambang 10 50meter
  6. Katrol 3″ 2 buah
  7. Tiang katrol pipa 1 1/2″
  8. Klem U Bolt 2″ 3 buah
  9. Klem U bolt 1 1/2″  2 buah
  10. Kunci pas 10-16
  11. Obeng + –
  12. Ring baut (untuk ganjal tower)

Nembak WiFi Indoor?

Banyak sekali digrup ini tidak memahami bagaimana WiFi itu bekerja. Apakah menggunakan frekuensi 2,4 GHz atau 5 GHz.
Begitu juga dgn pemancarnya menggunakan antena omni, sectoral, grid, dish, yagi atau panel, apakah antena tersebut polarisasi vertikal atau horizontal.
Internet gratis /murah memang jadi dambaan bagi yg suka gratisan atau murahan. Tapi, infrastruktur internet tidaklah murah dan jauh sekali dari gratis. Tentu perangkatnya relatif disesuaikan dgn pengguna ada yg murah dan murahan.
Bagi yg suka otak-atik, hasil akhirnya bisa dikatakan biaya menyamai yg pabrikan, bahkan bs lebih mahal. Nah, bagaimana dengan WiFi gratisan tetapi pemancarnya di dalam ruangan (indoor)?
Perlu diketahui bahwa sebuah pemancar (Accesspoint) milik Indihome hanya menggunakan power 20 dBm dan antena Omni directional 3 dBi. Jangkauan terbaik hanyalah < 25 meter. Itupun tanpa sekat dinding ruangan.
Lalu, bisa gak ditembak dari sekian ratus meter? Butuh biaya besar ..
Jika diizinkan pemilik WiFi lebih baik beli alat sepasang seperti WA7210N atau O3, buat koneksi P2P. Tapi, jika ingin mencuri ???
Nah, mencuri itu berdosa, klo nekat biasanya ada efeknya. Misalkan target A sudah dipegang password WiFi nya, trus dibelilah alat seharga 500rb belum kabel dan tiangnya. Seminggu kemudian password nya diganti, lalu orientasi alatpun diubah.. karena target baru lebih jauh maka alatpun dijual disini ngakunya salah beli..
Haduh.. sampai kapan..?