Surat Seorang Dosen Kepada Calon Istrinya

Sayang, bila kita menikah nanti, tolong kencangkan ikat pinggang. Bukan abang perhitungan memberimu makan, tetapi gaji abang mengajar satu bulan masih satu jutaan. Padahal uang listrik, tagihan air, serta iuran keamanan lingkungan dan pengangkutan sampah juga butuh dipikirkan.

Sayang, kamu harus tahu kenyataan pahit. Dosen itu kadang cuma menang nama besar, sedangkan gajinya kecil. Apalagi kalau jadi dosen tidak tetap, rasanya ingin meratap akibat kuliah tinggi-tinggi namun hidup melarat. Jangan heran kalau baju yang abang kenakan itu-itu saja, sebab abang mesti memutar otak untuk menabung di tengah keuangan yang super cekak. Tujuannya jelas agar kita bisa menikah, meski harus mengajakmu hidup dalam rumah tangga serba susah.

Sayang, jadi dosen terlihat gagah. Idaman setiap orang tua untuk dijadikan menantu, dipikir bisa menjamin kehidupan anaknya bahagia. Kenyataannya menyangkut kebahagiaan diri sendiri saja, seorang dosen tidak tetap kerap mengelus dada. Ada yang gajiannya setelah satu semester, sudah begitu kurang dari lima juta rupiah.

Sayang, kalau berhenti jadi dosen juga bingung. Sia-sia sekali ilmu yang sudah dipelajari hingga bergelar Magister. Miris memang, tapi inilah kenyataannya. Kamu harus tahu, dosen honorer itu ibarat hidup segan mati tak mau. Cuma harus sabar, barangkali bisa lolos sertifikasi dosen suatu ketika. Setidaknya dapat tunjangan sertifikasi bisa lumayan, meskipun mengurus NIDN tak semudah membalik telapak tangan.

Sayang, bila kita menikah nanti tolong pintar mengatur keuangan. Tenanglah seluruh gaji akan abang serahkan padamu, soalnya kalau abang ambil sedikit saja, khawatir kamu ngambek. Sudahlah gaji sedikit, masih dipotong pula untuk jatah pribadi. Abang harus sadar diri, kamu mau menikah dengan abang saja itu suatu keberuntungan.

Sayang, saat berumah tangga nanti hal yang paling dikhawatirkan itu saat dapat undangan pernikahan. Mau menyumbang sedikit, taruhannya harga diri. Kalau menyumbang agak banyak, bisa-bisa puasa akibat di akhir bulan beras tak ada lagi. Apalagi kalau sudah musim nikah, dalam satu bulan bisa dapat undangan berkali-kali.

Sayang, meski begitu percayalah abang akan berusaha cari kerjaan sampingan. Jadi supir ojek berbasis aplikasi online misalnya. Meski agak cemas juga kalau sampai yang order itu ibu dan ayahmu, kan nggak mungkin abang suruh bayar juga. Akhirnya, mau tak mau abang mesti jadi pahlawan kesiangan. Membayari mereka, dengan kebesaran jiwa seperti seorang pejuang yang ikhlas teriak merdeka meski peluru melesat tepat di jantungnya.

Sayang, percayalah. Demi kolor yang jarang abang ganti, demi kaus kaki yang sudah bolong jempolnya, serta sepatu yang dipaksa mengkilap pakai semir padahal usianya sudah tua dan butuh dimuseumkan, maka abang berikan kesaksian dengan jujur bahwa abang akan sungguh-sungguh jadi dosen yang baik meski gajinya belum besar, karena mengajar itu sebuah jalan memanusiakan manusia. Oleh sebab itu, abang selalu bangga dengan profesi ini serta mempercaya setelah kita menikah nanti akan ada jalan rezeki lain yang dibukakan Tuhan.

Dikutip dari https://www.facebook.com/groups/dosen.muda.indonesia/permalink/1271896256245657/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s