Jalan-jalan ke Dumai

Sabtu yang cerah, hati yang gundah. Gak cocok sekali perasaan hari ini. Sesuai rencana hari ini membuat atap tambahan teras warung internet statioNET. Bermodal kayu bekas, paku bekas dan baliho cagub (bahan vinyl) bekas.. mulailah kurancang atas tersebut. Nah, siang harinya ketika hendak istirahat, Bang Uyung menelpon yang isinya mengajak jalan-jalan ke Dumai.

Segeralah ku kontak istri tercinta dan membobol tabungan “di bawah tempat tidur”. Persiapan yang tak matang pun berjalan begitu saja. Pukul 14:30 bergerak ke Jl. Ikabina Kp. Baru. Disini titik berangkat bersama Bang Uyung, Ka Midah, Sarah dan tentunya Saya, Wina dan Caca. Bismillahirrahmanirrahim. Berangkat jam 15:15 Wib.

Sekitar 400 meter berjalanm ban kiri depan kempes. Langsung saja, buka dan dibawa ke Mesran Motor. Ban itu jenis tubeless (tanpa ban dalam) dan velg-nya agak baling. Menurut si tukang bisa di perbaiki tapi karena mau cepat akhirnya di kasi ban dalam. Tapi ternyata ban dalamnya bocor. Hmm… terpaksa di tempel dulu. Lama juga menempel bannya, sementara langit sudah mendung diselingi rintik-rintik. Akhirnya kami berangkat juga sekitar pukul 17:00 karena masih sempat Ashar di Bulu cina.

Perjalanan terus melewati Kota Pinang, Cikampak, sampai hutan lindung di perbatasan dan mampir makan malam di Bagan batu. Perjalanan dilanjutkan melalui jalan lintas sumatera yang sedikit kupak-kapik. Jalanan di provinsi Riau saat ini dalam tahap pelebaran.  Jadi debu dan material cukup menghambat laju kijang yang berstatus di pinjamkan ini. Gelap malam terus di tempuh, di kiri jalan sudah terlihat pipa minyak dan gas milik Pertamina. Riau terkenal dengan ladang minyaknya. Beberapa kilang dengan tangki besar ditemui dan pipa bukan hanya di satu sisi sudah di dua sisi, besar-besar pulak.

Akhirnya sampai juga di persimpangan menuju Dumai. Kalau ke kiri ke Dumai sementara ke kanan menuju Pekan Baru. Jalan yang lurus sejauh +30 Km hingga kota Dumai, dan sejauh itu hanya ada kebun sawit dan hutan. Gelap dan primitif. Doa mohon selamat dalam perjalanan terus terucap, tak henti-hentinya. Tak dapat di bayangkan jika Kijang mendapat masalah atau Bang Uyung sebagai sopir juga tiba-tiba mengantuk… dan akhirnya sampailah kami di Kota Dumai yang megah. Kami berhenti di Jl. Ombak, karena ban kiri depan kempes.

Dengan sigap ban di tambal di sekitar Sudirman, depan Jamsostek. Malam yang dingin, belum mendapat penginapan dan badan yang lelah. Kijang tak bisa jalan…. Usai ban di ganti, kami keliling mencari hotel. Satu-satu di masuki untuk menanyakan kamar kosong dan akhirnya kami ‘terdampar’ di Hotel Gadjah Mada, depan Telkom.

Tak banyak kegiatan kecuali istirahat, dan duh… Caca anakku yang masih 9 bulan masuk angin. Mencret dan muntah. Badannya tiba-tiba panas. Tapi sebentar kemudian caca tertidur walau sesekali rewelnya datang. Paginya, ummi caca pesan makanan yang hangat, hmm… ingat di kantin ada teh dan lontong pecal.

Saatnya sarapan di sebelah hotel, lalu jalan-jalan keliling kota. Beli ambal, ke bukit datuk, pelabuhan, cari kerajinan tangan dan makanan oleh-oleh untuk dibawa pulang. Waktu terus berjalan dan siang yang terik sekali membuat suhu cukup panas. Capek keliling sana-sini, saatnya pulang.

Loh.. koq pulang? iya ini perjalanan singkat. Berangkat sabtu sore minggu malam udah di rumah lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s