Berapa modal membuat RTRWNET

Konsep jaringan internet RTRWNet bukanlah usaha bisnis seperti layanan internet sebagaimana umumnya yang diatur pemerintah.
Jadi jika konsep ini berbeda dengan yang anda buat tentunya itu bukan RTRWNet. Bagaimana RTRWNet itu? Jaringan internet patungan dalam sebuah lingkungan radius puluhan meter. Anggotanya juga bisa dihitung dengan jari.

Membuat sebuah RTRWNet biayanya super hemat. Apa saja yang dibutuhkan. Tahap awal perlu koneksi, jika pakai Ind*h*me hanya registrasi ke Plasa terdekat. Tetapi jika tidak ada jalur bisa pakai jaringan 4G. Alat yang dibutuhkan sebuah modem LTE outdoor dan router. Rekomendasi USB Modem 4G dan MikroTik RB750Gr3. Perangkat diletakkan di luar rumah. Taksasi biaya awal Rp.2 juta.
Selanjutnya pemancar Wi-fi indoor modifikasi outdoor. Dibutuhkan 3 Accesspoint, 1 unit di lokasi modem (rumah anda), lalu 2 unit lagi di rumah anggota. Accesspoint ZTEF609 mungkin bisa jadi pilihan, selain murah karena beli bekas, juga kemampuan menampung device yang banyak. ZTEF609 jika diset power 100% bisa hingga radius 35 meter di perumahan tidak padat. Router ke Accesspoint tarik kabel Cat6. Maka ada 3 area +- 100 meter yang tercover.
Taksasi biaya wire-wireless ini Rp.1 juta.
Agar koneksi 24/7 dibutuhkan catu daya dan backup listrik, gunakan saja UPS 650VA. Jika 3 area harus dicover biaya total sekitar Rp.1,5juta. Maka total terwujudnya RTRWNet +- Rp. 5 jutaan.
Sumber koneksi bisa dari Ind*h*me atau jaringan 4G. Ini erat kaitannya dengan biaya bulanan. Ingat, ini RTRWNet bukan BISNIS. Semua pembiayaan di bagi sesuai porsinya. Pada saat pemasangan tentu ada biaya “config”. Setelah terpasang tentu ada biaya “maintenance”. Perangkat juga butuh listrik, berapa biaya/area yang harus ditanggung bersama.
RTRWNet mengarah kepada sharing bandwidth, sehingga jumlah user adalah jumlah device/ gadget yang teregistrasi. Anggota berhak melihat config pengaturan bandwidth atau sesuai dengan hadir mufakat sesama anggota. (Abdul Hakim Dalimunthe/ pegiat Wi-fi)

Listrik Tenaga Surya

Awal tahun 2020 rencana penggunaan listrik tenaga surya kurealisasikan. Sudah cukup lama mendambakan memiliki pembangkit listrik sendiri mengingat bumi ini semakin tua. Matahari bersinar berlimpah dan sangat efektif dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan.
Langkah awal yakni pengadaan perangkat seperti Solar cell 100wp Monocrystalline (Pmax 100 wp, Vmp 18.1V, Imp 5.54A, Voc 22.2V, Isc 6.00A), kabel khusus solar cell 2×2.5 lengkap dengan konektor MC4, Solar charge controller 20A, Battery VRLA 65AH/12V, DC bar distribution, Step down, Step up, volt meter digital, jack DC, kabel Aki dengan skun, serta beberapa alat pendukung seperti busbar grounding.
Solar cell mono 100wp dibeli dengan Sdr.Wahyudi MySolar dengan harga Rp.700.000,- dan battery VRLA SMT-Power 65AH 12V seharga Rp.1.500.000,-. Untuk SCC 20A PWM MySolar dengan harga Rp.180.000,-. Pengiriman barang lewat Indah Cargo dengan biaya Rp.9332/kg. Tahap awal ini biaya ongkir Rp.289.292.
Perangkat dirakit seadanya, tanpa ada beban hanya mempelajari SCC dan kemampuan dari solar cell mengisi battery dan meghitung kemampuan battery 65ah tersebut. Tahap awal dari pembangkit ini direncanakan untuk kebutuhan menyalakan modem ind*hom*, router MikroTik dan accesspoint.
Orderan perangkat tidaklah terkumpul dalam waktu bersamaan. Hampir semua perangkat dibeli online dari Bukalapak dan Shopee. Setelah perangkat terkumpul semuanya, maka sistem pembangkit ini bekerja dengan baik. yah, namanya pemula pasti ada saja yang mendapat nilai minus. Seperti penggunaan kabel dari solar cell memang harus yang khusus dan memiliki kemampuan yang bagus, atau skun dan kabel harus yang bagus antara battery ke SCC. Itu menghindari perangkat tidak kuat menahan arus yang bisa membuat terbakar.
Perangkat solar cell dipasang di atap rumah miring sekitar 5 derajat ke timur. Output SCC disalurkan ke step up 24V dan step down 12V. Selanjutnya masing-masing step di pasang DC bar 8 port dengan sekring 1 A. Untuk 12V ada 4 perangkat DC yang terhubung total sekitar + 80 watt dan 24V ada 6 perangkat DC total sekitar + 95 watt. Jelas, battery 65AH tidak mampu menyalakan perangkat pada malam hari. Dengan itu terpaksa jika malam hari atau matahari terhalang awan (mendung) saya menggunakan charge aki dengan fitur auto cut.
Pada awal bulan februari saya menambah solar cell 100 wp dengan spesifikasi yang sama dengan pemasangan paralel. Dengan harapan arus yang masuk ke battery bertambah, sehingga mampu bekerja sejak pukul 6:50 pagi hingga 16:50 (10 jam). Penambahan solar cell juga menambah konektor MC4 untuk paralel. Semoga setiap bulan perangkat seperti battery dan solar cell dapat bertambah sehingga mampu menjadi pembangkit listrik untuk satu rumah.

Internet di Rongkong

Hari ini saya bersama team dibawah StatioNet Wireless Rantauprapat berangkat ke Negeri Rongkong. Sesuai dengan perencanaan dengan salah satu pengusaha di Kabupaten Luwu Utara untuk membangun akses internet di Rongkong.

Team yang ikut ada Ilham, Jaka dan Sandi. Menurut rencana, ada 3 (tiga) lokasi yang dibangun sebagai point of present (POP) dan 4 (empat) titik hotspot internet.

Perjalanan hari ini (Senin,25/11/2019) merupakan kelanjutan dari hasil survey lokasi pada 10-15/10/2019 lalu. Berangkat dari Rantauprapat menuju Bandara Kualanamu Airport dengan MPV pagi hari sekitar 6.30. Sesampai di Kota Aek Kanopan disempatkan sarapan lontong mengingat di Sulawesi belum tentu didapatkan lontong ala Sumatera Utara.