RSS

Memory

ANAK DESA MERINTIS JALAN oleh H. Bahroem Dalimunthe

 

TAHUN KELAHIRAN

Tidak ada suatu catatan tanggal dan bulan berapa saya dilahirkan. Hanya menurut cerita ayah, saya dilahirkan dalam sebuah gubuk yang baru dibeli dari seorang suku Jawa, di Loburampah. Karena gubuk ini terlampau kecil dan sangat sederhana, ayah membuat rumah, atap nipah, lantai papan dan dinding papan pakai tongkat dan setelah rumah itu selesai ayah tulis disebuah tiang 1938. Inilah tahun kelahiran saya, yang kemudian pada saat masuk Sekolah Rakyat dibuat tanggal 28‑11‑1939 dan tanggal inilah yang di pakai dalam surat‑surat yang bertalian dengan ijazah maupun surat‑surat Keputusan Pegawai.

MASA KANAK‑KANAK YANG CUKUP MEMPERIHATINKAN

Mandah ke Sitedek

Sekali lagi saya ceritakan bahwa tidak ada catatan maupun foto‑foto bagi kehidupan saya sejak lahir di Zaman Penjajahan Belanda. Hal ini dimaklumi karena ayah hanyalah seorang petani yang mengandalkan ke hidupannya dari berkebun karet, itupun tidak sampai satu hektar. Tatkala masuk Jepang tahun 1942 usia saya baru 4 tahun. Telah mulai saya ingat bahwa tentara Jepang masuk ke Loburampah dan timbullah malapetaka kelaparan. Kami, yaitu ayah ibunda 3 kakak dan 1 adik, yaitu Syamsul Bahri, pindah ke Kampung Sitedek sekarang desa Padang Maninjau Kecamatan Aek Natas, membuka hutan tua untuk dijadikan perladangan. Disanalah kami hidup selama 3 tahun sampai Ulang Tahun Kemerdekaan yang Pertama. Disanalah saya dan adik saya Syamsul, bermain‑main diatas batang‑batang yang melintang, tidak ada sepeda roda tiga tidak ada sepatu atau sandal dan bahkan mungkin tidak memakai penutup badan, karena Zaman Jepang adalah merupakan kesengsaraan yang luar biasa bagi rakyat Indonesia. Banyak orang yang mati kelaparan, banyak orang yang tidak memakai penutup aurat, kalaupun ada dibuat dari kulit kayu yang dinamakan takki atau dari getah yang digiling tipis. Kalau ada yang meninggal tidak jarang dibungkus dengan tikar anyaman sebagai kafan. Seharian, saya dan Syamsul ditambah dua orang anak Uak Hakkung, yaitu Usman dan Saruddin, memancing dilembah‑lembah yang ada diperladangan dan umumnya ikan yang didapat hanya sitandak‑gara yang besarnya tidak lebih dari sebesar jempol kaki. Ikan ini biasa kami pesiang dan kemudian kami bakar sebagai lauk dari ubi sitolur (ubi rambat) yang juga kami bakar diunggun api dipeladangan. hal ini kami lakukan untuk menambah isi perut, karena setiap pagi kami hanya diberi makan oleh ibunda 1 piring nasi dan tidak pernah bertambuh.

Dipondok yang terbuat dari atap daun sordang, dinding dan lantai kulit kayu kami berempat sering bermain gasing pinang, yaitu pinang yang diberi tangkai. Dipeladangan yang kata ayah luasnya + 3 Ha, semuanya ditanam ubi rambat. Ubi ini oleh ayah dan 1 orang anak buahnya dibawa ke Padang Halaban, ditukar dengan beras, garam, dan lain-lain dengan tukaran, 1 kaleng ubi ditukar dengan 1 kg beras.

Yang tidak bisa dilupakan, bahwa dari 3 Ha peladangan ada 1 Ha yang tidak boleh kami masuki. Kata ayah kebun ubi yang 1 Ha itu adalah makanan tentara jadi kami tidak boleh mendekatinya. Ah, sungguh kelabu masa kanak‑kanak yang kami alami. Lain lagi cerita kakak‑kakaku, Oles, Faisyah dan Jamiah yang sudah beranjak gadis, yang hidup dijaman “malaise” ini. Sungguh memperihatinkan.

Kembali ke Loburampah

Loburampah adalah sebuah desa di Kecamatan Marbau luasnya lebih kurang 6 km2, berbatas sebelah utara dengan perkebunan Padang Halaban, timur dengan Desa Simpang Empat, selatan dengan Sungai Marbau dan barat dengan Desa Pulo Jantan. Desa Loburampah dulu terdiri dari Dusun Bulur Cina, Dusun Loburampah, Dusun Sotul, Dusun Kampung Lalang dan Dusun Sungai Bandar. Yang dimaksud dalam buku ini Loburampah adalah Dusun Loburampah.

Setelah Kemerdekaan, keamanan mulai pulih. Bahan makananpun sudah ada yang menjual. Masa kelaparan yang mencekam mulai tinggal berganti dengan tersedianya barang‑barang kebutuhuan yang dapat dijangkau harganya. Kampung Sitedek kami tinggalkan dan pulang kembali ke Loburampah. Alasannya bahwa tanah yang kami buka sebagai peladangan adalah tanah konsesi, harus dikembalikan kepada Pengusahanya yaitu kebun Padang Halaban. Di Loburampah, kami bertambah dengan lahirnya adik Ridwan. Oh. ada lagi cerita sebelum berangkat ke Sitedek. Adik saya seorang perempuan yang bernama Nursiah, meninggal dunia dalam usia 1 tahun. Dia dikebumikan di Loburampah.

Kehidupan di Loburampah sudah mulai membaik. Pagi ayah menderes dan sore mengambil nira. Nira ini dijadikan gula dan gula dijual ke Marbau. Satu hobby ayah memancing atau menjala di Sungai Marbau. Hasilnya lumayan, dan kadang‑kadang saya disuruh ayah menjual ikannya di sekitar kampung Loburampah. Ibunda yang sangat rajin beladang, tidak lupa menanam kebutuhan sehari‑hari. Cabai sering jual disekitar kampung.

MASUK PENDIDIKAN

Masuk sekolah darurat di Loburampah

Cukup menarik cerita ini. Bayangkan saya, kak Oles yang sudah gadis, kak Faisyah, kak Jamiah masuk sekolah darurat di Loburampah. Walau hanya satu tahun tapi cukup mengesankan. Sekolahnya terbuat dari dinding tepas, atap rumbia, kayu bulat dan bangku serta mejanya dari bambu yang dijadikan tepas. Tidak jarang punggung terjepit dicelah‑celah tepas bambu dan kalau ini terjadi kita akan mendengar jeritan. Empat orang anak sekolah sekaligus bagi seorang ayah yang hidupnya pas‑pasan bukanlah mudah. Makanya ayah memberikan kepada kami pinsil yang satu buah dipotong empat. Supaya panjang juga disambung dengan bambu.

Tidak lama duduk dibangku sekolah ada yang menjual batu lee yaitu alat menulis dan penulisnya disebut grep. Lebar batu lee ini selebar kertas polio dan grep besarnya sebesar lidi bargot. Selesai ditulis bisa dihapus. Gurunya Bang Kijo yang suka marah. Pernah suatu hari beliau marah kepada  kami sambil mencabut pedang samurai yang panjangnya 1 meter. Semua kami yang jumlah sekitar 30 orang lari puntang-panting.

Pindah ke Sekolah Rakyat (SR) Marbau.

Tahun ajaran 1947/1948 pindah ke SR Marbau. Tidak sampai satu tahun duduk dikelas satu akhirnya naik ke kelas dua. Kak Oles tidak ikut lagi sekolah ka­rena badannya sudah terlampau besar. Hanya saya, kak Faisyah dan kak Jamiah yang pindah. Kak Faisyah yang merasa badannya sudah terlampau besar akhirnya ti­dak mau lagi sekolah, hanya duduk dikelas 3. Saya dan kak Jamiah terus sekolah sampai tamat tahun a­jaran 1952/1953. Sekolah ke Marbau yang jaraknya + 3 km dari Loburampah bukanlah suatu jarak yang dekat.

Apalagi kondisi jalan setapak yang berlumpur di mu­sim hujan, Terlampau banyak kenangan tatkala sekolah di Marbau ini. Mengenai alat‑alat sekolah hampir tidak berbeda dengan di sekolah darurat di Loburampah. Pensil masih dipotong dua, batu lee dan grep sudah punya masing-masing, saya dan kak Jamiah. Tempat alat‑alat sekolah ini tidaklah seperti tas anak‑anak zaman sekarang ini, tapi tasnya terbuat dari sumpit login, yaitu login yang dianyam dan dibuat seperti tas.

Jalan menuju sekolah ada dua, yaitu dari Sungai Bandar atau menelusuri rel kereta api. Tahun 1950 saya dan kak Jamiah pulang sekolah, masuk lagi sekolah Ibtidaiyah Al Washliyah di Loburampah, tapi hanya kelas tiga, sebab tahun 1953, kami sudah pindah sekolah ke Rantau Prapat. Anak-anak Loburampah banyak juga yang sekolah ke SR Marbau. Antara lain kak Sa’arah, kak Mahinam, kak Fatimah, Sachrolan, Sammah, dan lain‑lain. Biasanya kami berombongan di jalan karena jalannya cukup sunyi. Dijalan sering kami temui serombongan bodat (sejenis monyet) yang yang suka mengganggu dengan cara merampas makanan.

Lain lagi babi hutan, ular, yang semuanya cukup menakutkan bagi kami sebagai anak‑anak. Pernah kami temui dijalan serombongar tentara Belanda. Kalau tidak lupa tahun 1948 tatkala di Loburampah diadakan kenduri dalam rangka peresmian kakak Oles dengan suaminya abang Abdul Hamid Sagala. Untung tidak terjadi apa‑apa atau pertempuran antara Tentara Republik Indonesia dengan Tentara Belanda sebab di Loburampah banyak Tentara Republik dibawah Pimpinan Letnan Nurdin Nasution.

Setelah melalui perjuangan yang amat berat dalam menuntut ilmu, tanggal 29‑3‑1953, kami murid Kelas VI mengikuti ujian di Rantau Prapat, di SD No.1 dekat Makam Pahlawan sekarang. Al Hamdulillah saya dan Kak Jamiah lulus.

Masuk SMP di Rantauprapat.

Kalau dilihat keadaan ekonomi ayah, sulit dicerna, pikiran mengapa ayah berani mengabulkan permintaan saya dan kak Jamiah untuk melanjutkan sekolah  ke Rantau Prapat. Saya ke SMP dan Kak Jamiah ke SGB. Sayalah anak Loburampah yang pertama masuk SMP, merintis jalan. Sebelum berangkat ke Rantauprapat, ayah merencana kami tinggal dirumah uak Otek Mustafa. Akhir bulan Juni 1953 ayah membawa kami kerumah Uak Otek Mustafa di Bakaran Batu. Dari sanalah saya dan kak Jamiah setiap pagi berangkat ke sekolah, saya ke SMP di Jalan Semberjo dan kak Jamiah di bekas SMP di Pekan Lama. Pulang sekolah saya biasanya disuruh uak Otek Mustafa menjaga kerbaunya.

Kerbaunya ada 4 ekor besar‑besar. Pekarangan uak cukup luas, tanam‑tanamannya cempedak, rambutan, kuini dan lain-lain. Kalau musim buah kami sering membawa makanan ke pengembalaan, seperti rambutan ataupun cempedak. Di pengembalaan cukup banyak pokok janggus hutan dan buahnya juga banyak. Pada suatu senja tatkala kami, saya dan teman saya Suro (family Uak), pulang dari mengembala kerbau, kerbaunya tidak mau beranjak, hidungnya mendengus‑dengus, telinganya tegak dan matanya memandang kejurang, sekarang ini kira‑kira + 100 m dari RSU menuju Sioldengan. Si Suro bilang bahwa dijurang ada Harimau dan perintahnya supaya jangan turun dari belakang Kerbau. Tak dapat kubayangkan bagaimana takutnya saya waktu itu. Untunglah tidak berapa lama kerbaunya seperti biasa dan mau diajak pulang, Uak Otek kerjanya sehari‑hari berjualan, kebun karetnya luas kambingnya ada 40 ekor. Anaknya waktu itu tidak ada beliau tinggal bersama isteri dan beberapa orang anak saudaranya termasuk si Suro, bang Sanif dan seorang anak angkat namanya Nurmiah.

Pada suatu malam masuk harimau ke kandang kambing sekali gus membunuh 25 ekor kambing uak. Untung ada gerobak lembu dan dengan gerobak itu semua bangkai kambing diangkat ke tepi hutan arah ke Sungai Bilah. Lebih kurang satu tahun kami tinggal bersama Uak Otek Mustafa dan kebetulan sekolah Kak Jamiah (SGB) pindah ke Stasiun, Ibtidaiyah Al Washliyah sekarang ini. Kak Jamiah mengambil kos dirumah Pak Mansyur di komplek sekolah dan saya mengambil jalan berulang dari Loburampah dengan cara naik kereta api abonemen (langganan). Dari Loburampah naik sepeda, berangkat tepat jam 6.00 WSU (waktu Sumatera Utara) dan harus sampai sebelum pukul 6.30 WSU di Stasiun Marbau. Kalau terlambat 5 menit saja, saya harus mengejar kereta api dari titi Marbau, sampai ke Stasiun. Biasanya kereta api sampai di Stasiun Rantauprapat pukul 7.15 WSU. Dari stasiun menuju Sekolah, juga naik sepeda dan kadang‑kadang jalan kaki. Pulang sekolah pukul 13.00 WSU dan kereta api berangkat dari Stasiun Rantauprapat menuju Padang Halaban pukul 16.00 WSU.

Selama dalam menunggu kereta api berangkat saya dan teman‑teman anak kereta api sering bermain bola dipekarangan stasiun. Nasi dibawa dari rumah. Tidak heran kalau ibunda yang memasak harus bangun pukul 5.00 subuh. Bontot dengan lauk seadanya dan biasanya ikan sungai dititip dirumah bang Nuar, penjual es. Jajan saya biasanya Rp.l.‑ sehari. Jajan dan kebutuhan sekolah selain dari ayah, saya juga telah dapat berusaha sendiri, yaitu menderes pada hari Minggu. Biasanya pendapatan satu hari Minggu itu cukup jajan satu minggu. Kalau libur biasanya 15 hari dan libur ini 3 kali setahun, saya merantau ke Sitedek, menderes kebun karet pusaka dari ibunda. Hasilnya cukup memadai membeli pakaian dan sepatu serta peralatan sekolah lainnya. Usia saya baru 16 tahun, tapi demi cita‑cita menuntut ilmu apapun harus ditempuh. Lain lagi peranan ibunda yang begitu besar.

Disamping tugas bangun pagi untuk menyediakan nasi, siang beliau tidak segan mengutip kopi di kebun, karena kebetulan ada kopi yang ditanam ayah + ½ Ha. Banyak usaha‑usaha yang dibuat ayah untuk menanggulangi biaya sekolah kami, saya dan kak Jamiah. Biaya kak Jamiah tidak seberapa karena dia mendapat tunjangan pendidikan. Uang rapelnya selama + 5 bulan dapat membeli sepeda VALUAS. Bukan main senangnya hati kami semua. Sebagai anak petani miskin mendapat sepeda baru cukup mengangkat derajat ayah, karena pada masa itu hanyalah saya dan kak Jamiah yang melanjutkan pendidikan ke Rantauprapat dari Loburampah. Kalau dari Kampung Lalang dan Sungai Bandar ada juga, yaitu abang Tohir dan Syamsuddin, itupun ke SGB. Setelah melalui perjuangan yang tidak ada bandingnya akhirnya saya lulus SMP, tapi malang bagi kak Jamiah, beliau tidak naik ke kelas IV. Akhirnya kak Jamiah berhenti dari sekolah.

Merantau meninggalkan ayah, ibu dan adik paling bungsu untuk menuntut ilmu di Medan. Sedih tapi itulah perjuangan. Ayah berdiri, Anwar Efendi duduk di Meja, saya (x) dan abang Syaridin

Setelah tamat SMP.

Membawa ijazah SMP sebagai hasil perjuangan yang tidak ada tolok bandingnya, adalah merupakan kegembiraan yang luar biasa. Delapan orang kami anak kereta api yang belajar di SMP semuanya LULUS. Rasanya kereta api adalah milik kami, baik anak Marbau Selatan, Marbau dan Padang Halaban. Menyanyi, menari dan menjadikan sandaran bangku sebagai gendang, kami lakukan semenjak berangkat dari Rantauprapat menuju pulang. Setelah puas  menyanyi dan menari, akhirnya diantara teman‑teman membuat rencana selanjutnya, sebagai penyambung SMP yang sudah tamat. Tentu melanjutkan keluar Rantau Prapat, karena pada tahun 1956 belum ada sekolah lanjutan atas  di Rantau Prapat, SMP sajapun baru satu di Labuhan Batu yang sudah Negeri dan Swasta ada di Aek Kanopan.

Sesampainya di Stasiun Kereta Api, kami berpisah, dan sayapun pulang dengan kegembiraan dan secercah harapan melanjutkan sekolah. Dirumah kusampaikan kepada ayah dan ibunda bahwa saya lulus dan kalau melanjutkan sekolah harus ke Medan karena di Rantauprapat tidak ada lagi sekolah lanjutannya. Ayah dan ibunda bukannya bergembira mendapat berita saya lulus, termenung .Mungkin memikirkan nasib saya yang bakal menganggur. Akhirnya disampaikan ayah bahwa beliau tidak sanggup lagi menyekolahkan saya. Oh, bukain main sedihnya hati saya.

Sejak hari itu, kira-kira bulan Juni 1956 jadilah saya pengangguran. Ayahpun tidak menyuruh saya bekerja menders seperti teman sebaya di Lobirampah. Kebetulan ada durian ayah + 20 batang, dan kebetulan sedang berbunga. Oleh ayah dianjurkan supaya dijaga dan oleh ayah dipersiapkan beberapa buah ketapel untuk mengusir monyet. Pelurunya yaitu batu krikil diampbil di Sungai Marbau karena kebun ini letaknya di tepi sungai. Setiap pagi saya berangkat ke kebun dan pulang jan 06.00 sore.

Sambil menjaga kebun saya membuat sange (tudung nasi) dari rotan. Ilmu ini saya peroleh dari tulang saya (sekarang mertua) di Padang Matinggi sewaktu saya sekolah. Rotan saya ambil ditepi hutan dan hasilnya saya jual Rp.200/perbuah. Suatu senja tatkala saya pulang menjaga kebun, dipinggir jalan saya jumpa seunggukan seperti ban. Setelah diteliti rupanya seekor ular besar, lalu saya laporkan kepada ayah. Segera ayah mendapati tempat tersebut sekaligus membunuh ular tersebut. Ternyata panjangnya 6 meter. Ada dua bulan saya menjaga kebun sampai datang berita yang sangat menggembirakan.

Masuk Kursus Prakit Agraria.

Pada suatu hari datang tamu ayah yaitu abang Mohd.Yakub Nasution, Ketua Masyumi Labuhan Batu. Setelah mendapat khabar bahwa sa­ya belum melanjutkan sekolah, beliau meminta kepada ayah supaya saya disekolahkan pada Kursus Prakit Agraria di Medan yang akan dibuka bulan September 1956. Menurut beliau Kur­sus tersebut ikatan dinas dan setiap bulan mendapat uang ma­kan dan uang buku. Apabila telah tamat nanti diangkat jadi Pegawai negeri.

Ayah dan ibunda lansung menerima usulan terse­but. Setelah melalui musyawarah keluarga akhirnya dijuallah sepeda kak Jamiah sebagai modal berangkat. Setelah cukup persiapan ditetapkan tanggal berangkat. Sebagai pendamping saya diminta bantuan incek Anen Pohan, penduduk Sungai Bandar. Betapa bahagianya perasaanku, karena anak Loburampah, barulah saya yang pertama bersekolah ke Medan. “Anak desa merintis jalan”.

Ayah, Ibunda dan kakak ikut mengantar ke Stasiun Kereta Api. Jam 11.30 WSU berangkatlah kereta api dari Marbau dan tiba jam 08.00 malam. Saya ditempatkan di rumah Bapak Istambul, Jl. Puri no. 61 B Medan. Mulailah saya mengikuti kursus tersebut di jalan Ngalengko, cukup jauh dari rumah. Kemudian tempat kursus kami dipindahkan ke Teladan dan akhirnya dipindahkan ke Kantor Inspeksi Keungan di Jalan Suka Mulia. Ada tiga bulan uang makan belum dibayar. Tentu bagi ayah merupakan kesulitan karena hasil menderes tidak memadai untuk belanja, termasuk belanja saya di Medan sebesar Rp. 200/bulan. Akhirnya ayah mandah ke “Serba Huta” mencari ikan dan sekali seminggu baru pulang ke rumah. Kak Jamiahlah yang menders kebun dan kalau ayah terlambat pulang, hasil kakaklah yang dijadikan belanja.

Di Medan saya tekun belajar. Ada sepuluh orang kami anak Masyumi dan mendapat perhatian khusus dari Kepala Sekolah yaitu alm. Mangaraja Parlindungan, orang tua dari Prof.DR.A.P. Parlindungan seorang Notaris di Jambi.

Tidak jarang saya dan teman-teman di ajak beliau ke rumahnya makan dan diberi nasehat-nasehat. Walaupun saya yang paling miskin diantara teman-teman kursisten, namun tidak menghalangi saya untuk belajar. Banyak suka duka yang dialami sewaktu belajar namun semangat belajar saya tetap tinggi. Setelah berjuang selama satu setengah tahun, akhirnya 50 dari 55 orang dinyatakan lulus termasuk saya sendiri. Betapa bahagianya saya.

Tinggal menunggu dimana ditempatkan. Awal Maret 1958 saya pulang ke Kampung Loburampah. Awal bulan Juni 1958 diterimalah SK pengangkatan yang mulai berlaku tanggal 1 Mei 1958, ditempatkan di Kantor Agraria Aceh Besar di Kutaraja. Kami ada 4 orang yang satu tujuan, yaitu di Kutaraja. Pada akhir Juli 1958 berangkatlah kami dari Medan dengan pesawat Conveir yang muatannya 48 orang. Tidak pernah terpikirkan dalam hati bahwa saya akan naik pesawat. Sayalah anak Loburampah yang pertama naik pesawat “anak desa merintis jalan”.

DIANGKAT SEBAGAI PNS

Bekerja di Kantor Pengawas Agraria Aceh

Tanggal 1 Agustus 1958 mulailah kami bekerja di Kantor Pengawas Agraria Aceh. Kepala Kantornya yaitu Bapak Sukirman adalah bekas wakil Kepala Inspeksi Agraria Sumatera Utara yang diangkat di Pengawas Agraria Aceh.

Beliau kurang setuju kami di tempatkan di Aceh, karena bukan anak pribumi (Aceh). Alasannya karena harga bahan pokok cukup mahal tidak bias dijangkau dengan gaji yang hanya Rp. 173,20. Beliau langsung mengusulkan kami pindah ke Sumatera Utara ke kabupaten masing-masing. Sebelum surat pindah diterima dari pusat, kami bertiga yaitu saya, Syahruddin dan Mukhtar Nasution ditempatkan di Kantor Pengawas Agraria Aceh, karena Kantor Agraria Daerah Aceh Besar dan Sigli belum ada kantornya. Kami tinggal di rumah beliau di Pungei. Satu orang teman kami Tgk. Daud anak Aceh, langsung dikirim ke Maulaboh. Ada dua bulan lamanya kami bertiga tinggal dirumah tersebut. Setelah melalui pertimbangan kami akhirnya menyewa kamar di Merduati. Kerinduan kepada kampung halaman benar-benar menyiksa.

Sebagai penghibur, pada hari Minggu atau hari libur kami mandi-mandi ke Olele, kadang-kadang membantu Nelayan menarik pukat-tarik. Lumayan, kadang-kadang kami diberi 2 kg ikan, cukup lauk kami beberapa hari karena kami memasak sendiri.

Waktu senggang lainnya dimanfaatkan membuat surat untuk ayah, ibunda dan boru tulang di Padang Matinggi, sekedar melepas rindu. Maklum belum pernah berpisah dengan orang tua begitu lama. Apabila ada balasan, cukup menghapus rasa rindu yang menyiksa..

Karena gaji yang sangat minim, hanyalah ke Olele yang dapat dilakukan setiap minggu, padahal ada Mata’i, Lhok Ngah dan lain-lain. Waktu malam kami menikmati sungai Krueng Aceh yang membelah kota, memperhatikan nelayan-nelayan pulang dari laut.

Di kantor belum banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Permohonan hak tanah hanya datang dari warganegara asing, atau warga Indonesia turunan asing. Maklum pada waktu itu belum ada perundang-undangan Agraria Nasional. Pengurusan tanah masih berdasarkan undang-undang Hindia Belanda (Agrariche Wet). Namun kami tetap rajin ke Kantor sambil mempraktekkan ilmu yang dapat di Medan. Setelah hampir lima bulan di Kutaraja, sampailah pada masa yang mengharukan dan menggembirakan. Betapa tidak, sepulangnya Bapak Kepala dari Jakarta, beliau rupanya langsung membawa surat pindah kami bertiga. Pertama saya dipanggil dan diserahkan SK. Pindah sekaligus uang Rp.600. Beliau bilang kalau mau pulang dengan pesawat supaya diurus P2-nya (Prioritas Pertama).

Tanpa pikir panjang, langsung saya iyakan. Setelah selesai segala sesuatunya, dua hari kemudian saya berangkat ke Medan melalui Blang Bintang dengan pesawat jenis Dakota yang isinya hanya 25 orang. Karena udara buruk, kondisi pesawat sangat goyang dan hampir semua penumpang muntah-muntah.

Pindah ke Kantor Agraria Daerah Labuhan Batu

Setelah melapor di Kantor Inspeksi Agraria Sumatera Utara, oleh Kepala saya langsung di nota-dinaskan ke Kantor Agraria Labuhan Batu di Rantau Prapat.

Pindah ke Kantor Agraria Labuhan Batu setelah 6 bulan di Kutaraja

Tanggal 2 Januari 1969 mulailah saya bertugas di Kantor Agraria Labuhan Batu. Setahun lebih bertugas berkas-berkas belum diserah-terimakan dari Kantor Bupati kepada Kantor Agraria Daerah. Namun saya tetap bekerja mempelajari berkas-berkas yang ada secara meminjam. Maklum kami pegawai Agraria Daerah masih sekamar dengan pegawai Bagian Agraria Kantor Bupati Labuhan Batu. Waktu itu Bapak Kepala Kantor Agraria Tuan Bandar Alam Purba Tambak sudah tiga tahun di Labuhan Batu digantikan oleh Bapak Bulkia Pakpahan. Barulah tanggal 1 Maret 1960 berkas-berkas ditimbang-terimakan dari Bupati Labuhan Batu kepada Kepala Kantor Agraria Daerah Labuhan Batu dengan saksi saya dan Bapak Mamud Dalimunthe.

Disini juga pekerjaan hanya mengurus surat-surat milik warga Negara asing, atau warga Negara Indonesia turunan asing, karena dasarnya juga Agrariche Wet. Tahun 1960 keluarlah Undang-undang Pokok Agraria dan kami mulai bekerja sambil belajar menyesuaikan dengan perundang-undangan yang berlaku. Walaupun ada hak milik untuk warga pribumi, namun tata-cara memperolehnya belum ada, masih mengambang. Buat sementara saya berulang dari Loburampah. Kadang-kadang saya menginap di rumah tulang alm. Lobe Kandak di Padang Matinggi. Situasi keamanan di Labuhan Batu belum pulih betul. Kadang-kadang terdengar suara tembakan mortir dan bazooka.

Di Loburampah kami membentuk Panitia Amil Zakat Fitrah di bulan Ramadhan 1960. Rupanya hal ini menjadi bahan propaganda PKI di Padang Halaban. Dituduh kami mengumpulkan dana untuk DI/TII. Akhirnya saya dan Bang Hakim melarikan diri dari Loburampah. Saya ke Rantau Prapat, langsung melapor pada Komandan PO.13 sekarang KODIM meminta perlindungan. Sementara saya tinggal dirumah tulang. Tapi tidak berapa lama, kami menyewa rumah di stasiun Kereta Api dengan adik Syamsul Bahri, yang masih duduk di SMEP.

Kehidupan pegawai negeri masih memprihatinkan. Namun saya bersyukur bahwa saya dan adik Syamsul tidak lagi meminta bantuan ayah, kami sudah mandiri. Situasi keamanan belum juga pulih, suara tembakan masih selalu terdengar. Tersiar kabar bahwa pemerintah akan merekrut pemuda-pemuda jadi tentara. Ayah tidak setuju kalau kami masuk tentara. Maka ada upaya yang akan diusahakan ayah dan ibunda.

Menikah dengan Boru Tulang

Ayah menghendaki agar saya dinikahkan dengan anak saudaranya di Loburampah. Tapi ibunda menghendaki lain. Beliau lebih suka kalau saya dinikahkan dengan anak saudaranya seanak-bapak di Padang Matinggi. Alasannya sederhana, beliau ingin menghubungkan persaudaraan yang terpisah berpuluh-puluh tahun. Tulang semenjak kecil dibawa oleh orang tuanya merantau ke Labuhan Bilik, sementara ibunda dan saudaranya Mohd. Yusuf tinggal di kampung halaman Pasang Lela. Belum pernah ibunda berjumpa dengan atok yang merantau ke Labuhan Bilik. Barulah tahun 1949 uak Mohd. Yusuf abang ibunda merantau ke Labuhan Bilik mencari atok, namun yang dijumpai adalah anak-anaknya yaitu tulang dengan 3 orang saudaranya. Tahun 1952 tulang pindah ke Rantau Prapat, bermukim di Kampung Jawa Padang Matinggi. Saat itu saya diperkenalkan uak Mohd. Yusuf kepada tulang di Padang Matinggi yang selanjutnya ditindaklanjuti oleh nan tulang berkunjung ke Loburampah dengan beberapa orang anaknya termasuk si Noni yang akan dinikahkan kepada saya. Akhirnya ayahpun menyetujui usul ibunda. Sebagai langkah awal ibunda menjumpai tulang menyampaikan hasrat hati mereka. Ternyata mendapat sambutan dan waktu hal ini disampaikan kepada saya, saya mengiakan saja. Dalam hati Pucuk di Cinta Ulam Tiba. Dalam suatu acara yang sederhana tanggal 31 Oktober 1960 dilaksanakan acara akad nikah dilanjutkan dengan peresmian ala kadarnya, namun memakai orkes. Tinggallah saya beberapa bulan di Padang Matinggi bersama isteri yang biodatanya sebagai berikut:

Nama                           : Fahimah Pohan, nama kecil : Noni

Lahir tanggal   : 19 Februari 1940 di Labuhan Bilik

Pendidikan      : SR sampai Kelas IV di Sungai Sitorus, Ibtidaiyah sampai kelas III di Sungai Sitorus.

SR dari kelas V s/d kelas VI di SD 2 Rantau Prapat.

Ibtidaiyah dari kelas IV s/d kelas V di Rantau Prapat.

PGA dari kelas I s/d PGAA kelas VI di Rantau Prapat.

Guru honor pada perguruan Muhammadiyah dari tahun 1959 s/d 1962.

Hidup Mandiri dengan seorang Adik

Setelah tiga bulan bersama mertua, akhirnya kami pindah ke rumah kontrakan di Jalan Stasiun, yang sudah dikontrak sebelumnya. Disana kami hidup bersama Syamsul Bahri yang masih duduk di SMEP.

Kehidupan pegawai negeri masih memperihatinkan, keamanan belum pulih. Catu beras dicampur jagung. Banyak teman-teman yang mengundurkan diri sebagai Pegawai Negeri, namun saya tetap bertahan. Suatu hari datanglah peristiwa yang tidak dapat dilupakan seumur hidup. Tanggal 18 Nopember 1961 sampai pukul 16.oo sore kami belum makan karena tidak ada yang dimakan. Uang tidak ada. Anak kami yang pertama yang lahir tanggal 31 juli 1960 tidak tahu kalau ayah-ibu tidak makan satu hari. Kehidupan serba kekurangan ini tetap kami jalani. Nampaknya pemerintah tidak bermaksud untuk mensejahterakan masyarakat, sebab apabila sejahtera PKI sulit berkembang.

Barang-barang kelontong tidak ada di took-toko, beras makan bercampur jagung. Setelah dua tahun di jalan Stasiun, akhirnya awal 1962 kami pindah ke Jalan Padang Matinggi (Jalan Cemara) menyewa sepintu rumah kontrak kepunyaan Bapak H. Abdurrahman. Rumah itu baru selesai dan tidak kena banjir seperti yang di stasiun. Setelah kami berada disini, datanglah perintah supaya setiap rumah tangga membuat lubang berbentuk siku dengan kedalaman 1 ½ meter. Belakangan diketahui lobang itu gunanya sebagai kuburan massal bagi orang-orang yang bukan PKI, sungguh mengerikan.

Kehidupan semakin parah, bahan-bahan mulai dicatu. Minyak tanah dicatu, pakaian dan bahan-bahan makanan lainnya dicatu. Saya tetap mengikuti perkembangan dan situasi Negara. Bersama teman-teman yaitu abang Jaba Ritonga, uak Mahidin (alm), kami membentuk Koperasi Desa Setia. Tujuannya untuk menyalurkan bahan pokok terutama minyak tanah. Setiap bulan saya dan teman-teman menyalurkan minyak tanah untuk penduduk Padang Matinggi yang waktu itu berjumlah + 800 KK. Lumayan tambahan gaji yang sedikit.

Tanggal 5 Desember 1962 anak yang kedua Fadhilah Bahar lahir. Isteri saya Fahimah tetap mengajar di perguruan Muhammadiyah. Setelah dua orang anak terasa repot mengasuh anak, pagi ada pembantu yang mengasuh. Akhirnya awal tahun 1963 beliau berhenti mengajar.

Mendirikan gubuk.

Walaupuh kehidupan ekonomi masih sulit, namun ayah selalu menganjurkan membuat rumah walaupun gubuk. Sebagai pegawai negeri di Kantor Agraria saya melihat ada tanah Negara dibelakang Kantor Pos sekarang cukup satu perumahan. Maka saya majukan usul kepada Kepala Agraria agar tanah itu ditunjuk kepada saya.

Surat hunjukan saya terima, maka saya dirikanlah disana gubuk dengan ukuran 5 x 6 meter, atap nipah, lantai tanah dan perkayuannya kayu bulat. Gubuk itu persis dibelakang rumah Dan Dim, sekarang rumah H.Chalid Siregar. Belum selesai diatap datang perintah Bupati Labuhan Batu (H.Idris Hasibuan) supaya gubuk itu dibongkar.

Gubuk bangunan pertama keluarga cukup mengesankan. Atap nipah, lantai tanah dan dinding papan, ukuran 5m x 6 m. Dijadikan tempat berdirinya Majlis Taklim dan cikal bakal terbentuknya HPK.

Rumah saya bongkar dan perkayuannya saya kumpulkan dirumah abang Mahmun. Tahun 1962 saya membeli tapak perumahan di Padang Matinggi yaitu tapak rumah yang sekarang luasnya 14 x 25 dengan harga Rp.20.000.‑ Untuk membelinya saya jual 2 buah sepeda. Akhirnya perkayuan yang sudah ada kami dirikan ditanah yang baru dibeli, kebetulan didepan rumah yang saya kontrak. Walaupun atap nipah, lantai tanah dan dinding

papan namun sudah kami pindahi pada awal tahun 1963.

Seperdua dari gubuk itu dijadikan kamar tidur dua buah sedang seperdua merupakan ruang tamu. Tanggal 9 Januari 1964 lahir anak kami yang ketiga “Farada Dirham” rumah sudah berlantai semen.

LAHIRNYA UUPA NO.5 TAHUN 1960 TANGGAL 24-09-1960

Pelaksanaan Undang-undang ini berupa PP telah keluar. Kami para petugas harus melaksanakannya terutama dibidang Landreform. Terkenal dengan tanah absentee dan tanah kelebihan batas maksimum. Panitia Landreform Kabupaten sudah terbentuk. Sekarang Panitia Landreform Desa dan Kecamatan harus dibentuk dan selesai awal tahun 1963. Saya diangkat sebagai Wakil Ketua Panitia Landreform Kecamatan Bilah Hilir Panai Tengah dan Panai Hilir. Sekitar bulan Mei 1963 semua Panitia Landreform di Kecamatan tersebut telah selesai saya lantik. Panitia Desa dan Kecamatan bertugas mendata semua tanah-tanah absentee dan kelebihan batas maksimum. Paling lambat awal bulan Januari 1965 semua data sudah ada di Kantor Agraria Daerah Labuhan Batu.

Bulan Juni 1965 saya dan abang Amran Pohan dan Amas Dalim Siregar berangkatlah ke Kecamatan Bilah Hilir, Panai Tengah dan Panai Hilir mengadakan pengukuran, pendataan pemilik dan penerima redistribusi. Hampir tiga bulan kami dilapangan mulai dari Kampung Padang sampai ke Sungai Penggantungan. Akhir Agustus berkas-berkas dan gambar situasi sudah ada di Kantor Agraria Labuhan Batu untuk proses selanjutnya. Di Kantor Agraria Daerah Labuhan Batu setiap hari saya meneliti hasil-hasil pekerjaan kami dari lapangan.

Gerakan 30 September PKI

Betapa terkejutnya masyarakat Indonesia tidak terkecuali kami di Kantor Agraria, bahwa pada malam 30 September 1965 Letkol. Untung mengumumkan lewat radio bahwa Pemerintah Republik Indonesia domisioner. Pemerintah sementara dipegang oleh Letkol. Untung. Semua pangkat diatasnya diturunkan menjadi Letnan Kolonel. Perkembangan selanjutnya tanggal 1 Oktober 1965 diketahui bahwa 6 Jenderal telah menjadi korban keganasan PKI di Lobang Buaya. Situasi Negara dalam keadaan darurat. Tampil Letnan Jenderal Suharto mencari Jendera1-jenderal yang terbunuh sedang Presiden Sukarno tidak diketahui dimana berada. Pegawai Negeri tidak lagi bekerja sebagaimana biasa, di Kantor hanya mengikuti perkembangan dan situasi Negara. Akhirnya terjadilah malapetaka terbesar sepanjang usia negara sepuluh tahun. Akibat terbunuhnya 6 Jenderal dan 2 Kolonel bangsa Indonesia olch PKI, semua pemimpin dan anggota PKI. yang jumlahnya hampir 1/5 penduduk Indonesia menjadi sasaran kemarahan bangsa Indonesia. Dimana‑mana terjadi pengganyangan terhadap PKI. Mayat-mayat bergelimpangan di jalan‑jalan, sungai dan tempat-tempat yang khusus penjagalan anggota PKI. Komanda Aksi dari organisasi Pemuda berdiri dimana-mana. Kerja sama dengan TNI, setiap hari kita lihat truk-truk berisi pemuda menuju Desa-desa mencari anggota PKI atau simpatisan PKI. Kalau dapat mereka disika dan dikumpulkan ditahanan KODIM dan tidak jarang dibunuh dan dicampakkan di sungai‑sungai yang dilalui Komanda Aksi. Sungguh mengerikan kita tidak tau siapa kawan dan siapa lawan. Cukup lama peristiwa itu terjadi, hampir setahun. Setelah itu penelitian terus dilakukan tidak terlepas terhadap pegawai negeri yang terselubung sebagai simpatisan PKI. Akibat situasi Negara yang kacau balau maka terjadilah paceklik yang luar biasa. Beras tidak ada, makanan hanya jagung. Pada waktu itu tahun 1967 banyak Pegawai Negeri yang mengundurkan diri. Mencari nafkah sebagai petani karet (menderes), Nelayan dan lain-lain. Karena gaji pegawai Negeri hanya cukup dimakan satu minggu. Namun saya tetap bertahan, banyak usaha-usaha yang kami buat seperti bercocok tanam, beternak ikan dan ayam dan lain-lain. Anak keempat “Nila Kesuma” lahir tanggal 1 Nopember 1966. Dengan 4 orang dan satu orang adik kami terus berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk isteri menjahit pakaian anak-anak. Tahun 1968 keadaan keamanan benar-benar telah pulih, gaji pegawai negeripun mulai naik.

Mengukur peladangan di Jatuhan Golok.

Seorang sahabat saya yang bekerja sebagai Syahbandar di Labuhan Bilik bernama Khaidir meminta kepada saya untuk mengukur tanah perladangan di Jatuhan Golok, Kecamatan Kualuh Hilir. Luasnya + 300 Ha, dimilik ­+ 25 KK. Waktu itu tahun 1968 sedang musim panen dan oleh sahabat saya tersebut dijanjikan bahwa biaya ukurnya dibayar dengan padi. Satu Ha Dibayar 15 kaleng padi. Saya merasa keberatan karena daerah Jatuhan Golok jauh sekali, transportasi kesana hanya jalan laut naik sampan. Tapi karena terus didesak akhirnya saya iakan juga. Ternyata peladangan ini adalah bekas kilang papan yang pemiliknya terlibat PKI, dan melarikan diri. Untuk menyambung hidup bekas karyawannya, mereka membuka hutan dan dijadikan peladangan. Ternyata hasilnya sangat bagus. Untuk menjaga hal hal yang tidak dingini dibelakang hari dari bekas pengusaha, mereka meminta tanahnya disurati. Tiga hari saya melaksakan tugas disana bersama Kepala Desa Simandulang

Hasil sebanyak 450 kaleng padi, saya bagi-bagi, buat sahabat saya, buat Kepala Desa Simandulang, saya wakafkan untuk Musholla, dan ongkos sampan ke Negeri Lama. Akhirnya bersih sampai di Rantau Prapat 200 kaleng. Lumayan karena waktu itu adalah masa paceklik.

Mendirikan Majlis Taklim

Tahun 1968, pekerjaan di Kantor mulai sibuk. Masyarakat sudah ada yang mulai meminta surat-surat tanah. Belum lagi Kepala Desa yang minta petunjuk membuat surat izin membuka hutan. Rumah kediaman kami belum berobah, masih sebuah gubuk yang berukuran 5 x 6 meter, dengan kondisi seperdua untuk kamar dan seperdua untuk ruang tamu. Namun keinginan untuk menambah ilmu pengetahuan agama dikalangan keluarga dan jiran sangat terasa. Bersama teman dan jiran seperti (alm) H.Abd.Muin Ritonga, H.Muhammad Ritonga, (alm) Bahari Ritonga, (alm) Adam Dongoran, H.Jaba Ritonga, (alm)Kasam Ritonga, (alm)Kifli Lubis dll kami bentuklah Majlis Taklim dirumah kami. Gurunya alm. Abdul Wahab Rasyid dengan pelajaran Fiqh dan Tauhid. Majlis Taklim ini berjalan lama dan disinilah timbul hasrat untuk mendirikan Serikat Tolong Menolong.

Berdirinya Himpunan Pembantu Kemalangan (HPK)

Tugas di kantor Agraria Daerah sudah mulai sibuk. Setiap hari sudah banyak permintaan masyarakat surat surat tanah. Tanggal 9‑1‑1969 lahir anak kami yang kelima “Farhan Hadi”. Sementara majlis taklim terus berjalan setiap malam Minggu. Tahun 1970 terjadi perobahan Pimpinan Kantor Agraria dari Bapak Bulkia Pakpahan kepada Bapak Raja Sulong Bahsyan. Setelah beliau memimpin Kantor Agraria Labuhan Batu terjadilah perobahan. Tugas yang tadinya mendaftar tanah-tanah Absentee dan kelebihan batas maksimum dilanjutkan terutama tanah kelebihan batas maksimum yang jumlahnya banyak di Labuhan Batu dan pada umumnya telah digarap petani. Tanah kelebihan batas maksimum yang telah digarap masyarakat ini diselesaikan dengan cukup damai, penggarap diberikan hak milik dengan pembayaran uang ganti rugi kepada Negara dan Negara membayar harga tanah kepada bekas pemilik sekaligus. Masyarakat membayar dengan angsuran selama 20 tahun, cukup damai.

Bangunan semi permanen tempat terbentuknya HPK, do’a jamaah supaya rumah dibesarkan Allah SWT terkabul.

Saya ditugaskan mengukur tanah kelebihan milik R.Syaifullah di Marbau seluas 170 Ha. Sambil bertugas, kehidupan bermasyarakat tetap menjadi perhatian dan pada tanggal 1 April 1970 Majlis Taklim yang saya dirikan sebelumnya mendirikan HIMPUNAN PEMBANTU KEMALANGAN (HPK) dengan anggota pendirinya 18 orang. Mereka itu H. Bahroem Dalimunthe, H. Jaba Ritonga, alm.Ch.Darussalim Ritonga, 4. alm. Raja Bahari Ritonga, 5. Gumri Dalimunthe 6. alm.Selamat Situmorang. 7. H.Muhammad Ritonga, 8.Mariden Ritonga. 9. alm.Adam Dongoran. 10. alm. Bahari Ritonga. ll. alm.H.Abdul Hamid Hasibuan. 12. alm.Amir Munthe. 13. alm.H.Takdin Ritonga, 14. alm.Kasam Ritonga. 15. alm.Abdul Hamid Rambe. 16. alm. Abdul Wahab Rasyid Siregar. 17. alm.H. Abdul Muin Ritonga. 18. alm.Ch.Zulkifli Lubis. Tahun pertama terpilih sebagai Ketua Abdul Wahab Rasyid Siregar, Sekretaris Bahroem Dalimunthe dan Bendahara Ch.Darus Salim Ritonga. Hampir dua tahun tidak ada penambahan anggota. Mungkin masyarakat belum yakin atas serikat tolong menolong yang bernama HPK karena sebelumnya pernah berdiri Serikat Tolong Menolong. Tapi karena manajemennya kurang baik, akhir berhenti. Namun kami tetap bertahan walaupun yang meninggal baru satu orang yaitu cucu Amir Munthe. Tahun kedua diadakan pewilihan Pengurus secara bebas dan rahasia. Terpilih saya sebagai Ketua, Sekretaris Nazamuddin Dalimunthe dan Bendahara Ch.Darus Salim Ritonga. Tanggal 4 Pebruari 1971 lahir anak kami yang kelima “Khairunnas”.

MENGUKUR TANAH UNTUK PERKEBUNAN BESAR

Mengukur Tanah PT. PIPRO

Tahun 1971 oleh Bapak H.Raja Sulong Basyan, selaku Kepala Kantor Agraria Labuhan Batu mulai membagi kami para pegawai. Ada 8 orang pegawai ditugaskan ke kebun Padang Halaban, memindahkan para penggarap kebun Padang Halaban disekitar Stasiun Padang Halaban ke Kampung Gorojokan di Desa Pulo, Jantan, Kecamatan Na.IX‑X, sementara saya sendiri masih tetap di Kantor. Datang rasa iri hati saya melihat teman teman yang bertugas di Padang Halaban.

Mereka mendapat honor dari kebun Rp.500/hari sedang gaji dikantor tetap jalan. Belum termasuk makan yang ditauggung oleh pihak Perkebunan. Namun saya tetap bertahan dan meminta tugas apa. Akhirnya Bapak R. Bahsyan (yang sebelumnya saya turut meminta beliau jadi Kepala di Labuhan Batu) menunjuk saya mengukur tanah Negara seluas + 1000 ha di Kampung Padang Mahondang Desa Aek Kota Batu, milik H. Iwan Matsum/Bupati Labuban Batu. Tugas itu saya laksanakan dengan baik, dan selanjutnya saya ditugaskan mengukuran tanah PT.Socfindo di Aek Pamingke. Ada dua tempat, yang pertama di Kampung Adian Torop seluas 800 ha dan kedua di Aek Pamingke, Kampung Simpang Tiga dengan luas 1600 ha.

Walau pun 1 ha hanya dibayar Rp.100.‑ namun hasilnya cukup lumayan, sehingga saya bisa membeli Honda Bekas. Walaupun honda, bekas tapi cukup untuk membantu kelancaran tugas. Sejak tahun 1971 saya sudah mulai sibuk mengukur tanah tanah objek Landreform. Karena menurut Bapak Kepala tanah‑tanah Negara yang belum mempunyal surat hak milik dianggap tanah negara dan dijadikan objek Landreform. Lain lagi tanah‑tanah persawahan yang dijadikan jaminam pinjaman uang Bimas. Dengan tekun semua tugas-tugas saya laksanakan dengan baik.

Sewaktu kakak saya yang pertama Oles istri abang Abdul Hamid Sagala meninggal dunia tahun 1971 saya masih tetap bertugas di Rantauprapat sehingga semua fardhu kifayahnya dapat saya ikuti. Tahun 1972 merupakan suatu kebahagian didalam keluarga. Waktu senggang saya dan anak-anak ke Loburampah berkumpul dengan ayah dan ibunda. Walaupun kakak telah tiada namun pertemuan dengam kemanakan-kemanakan selalu dilakukan. Tahun 1972 meninggal pula suami kakak Faisah alm. abang Mahiddin Nasution, yang juga meninggalkan anak anak.

Tentu semua ini menjadi perhatian bagi saya yang kehidupannya mulai membaik. Tahun 1972 rumah yang tadinya gubuk dinding papan, atap nipah, lantai semen dengan 5 x 6 meter dirombak menjadi rumah semi permanen dengan ukuran 7 ½  x 8 meter. Banyak anak Saudara yang ajak tinggal dirumah untuk sekolah seperti Anwar Efendi (adik kandung)  Chairullah dan Adhar (kemanakan) dan Masruni (anak abang). Mereka sekolah dan belajar menjahit.

Tahun 1972 tugas saya mulai diarahkan ke daerah pantai,  yaitu Panai Tengah, Panai Hilir dan Kualuh Hilir. Dalam setiap bulan hampir dua puluh hari saya dilapangan. Namun tatkala anak saya “HAFIZOH” lahir tanggal 9 Januari 1973 saya berada di Rantauprapat.

Betapa bahagianya bersama ayah, ibu, adik dan semua cucu ayah saat akan menikmati hidangan

TAHUN DUKA CITAKEDUA

AYAHANDA BERPULANG KE RACHMATULLAH

Permintaan hak milik dari Masyarakat Panai semakin banyak. Hampir setiap minggu saya berada di pantai, Labuhan Bilik atau Panai Hilir, Kualuh Hilir sehingga kadang‑kadang dua puluh hari tidak pulang ke rumah. Pada tanggal 1 Juli 1973 saya berada di Labuhan Bilik. Sejak semalamnya hati saya gelisah, saya ingin pulang, tapi masih ada urusan saya yang belum selesai. Barulah sekitar jam 10.00 WIB. urusan saya selesai dan saya bergegas untuk pulang. Tas pakaian saya persiapkan, Honda saya naikkan ke sampan untuk diseberangkan ke Tanjung Sarang Elang. Saya bergegas pulang dan sesampainya dirumah sekitar pukul 4.00 sore saya lihat ada keluarga yang sedang menunggu saya. Secara diplomat mereka menyampaikan bahwa ayah telah berpulang ke Rachmatullah semalam sekitar jam 8.00 pagi, Saya langsung dibonceng dibawa ke Loburampah.

Ayah meninggal secara tiba‑tiba. Beliau sedang menjenguk anak bundenya incek Mohd. Nur yang meninggal dan kemudian secara tidak sengaja tersenggolnya dahan rambutan yang tidak terlalu besar. Kemudian ia jatuh dan marasa pening. Kemudian dibawa kerumah abangnya uak Madel yang berseberangan dengan rumah alm.Mohd. Nur. Rupanya beliau ada maag dan maagnya bolding sehingga ususnya pecah dan keluar.

Ayah meninggal dunia, tanggungjawab abang untuk menikahkan adik. H.Ridwan dan Hj. Nurhailan sedang duduk dipelaminan.

Satu malam menderita akhirnya ayah meninggal dirumah abangnya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.  Tinggallah ibunda yang sedang sakit‑sakitan bersama dua orang adik di Loburampah, yaitu adik Ridwan dan adik Sri Banian.

TUGAS DAN PEMBINAAN KELUARGA

Saya tetap sibuk di lapangan, istri saya Fahimahlah yang mengawasi anak‑anak, Kalau saya dirumah anak anak sering saya bawa di atas Honda melihat keadaan disekitar Kampung Padang Matinggi terutama kebun PTP yang di sebelah utara. Kepada mereka saya perlihatkan buruh‑buruh deres memikul getah yang berat pada halnya sudah tua. Akhirnya saya sebutkan begitulah kalau kita tidak bersekolah. Ayah ada sekolah ayah walaupun tidak tinggi, tapi tidak demikian lagi. Rajin-rajin kamu sekolah ya!

Hal yang seperti ini selalu dan sering saya lakukan, kepada si Fauziah, Fadhilah, Farada dan Nila Kesuma. Dirumah anak-anak saya didik mengenal disiplin, misalnya kalau sudah Maghrib harus masuk rumah, berangkat‑pulang harus mengucapkan salam, mengambil uang langsung dari kantong baju, tujuannya supaya sejak dini harus jujur dan kalau ada tamu tidak boleh mendekat dan kalau disuruh pergi cukup dengan isyarat mata dan makan malam harus bersama‑sama dan pada waktu makan malam sering diberikan nasehat-nasehat. Hal seperti secara kontinyu saya arahkan kepada anak-anak kami yang lain sampai kepada si bungsu Abdul Hakim. Di masyarakat, kegiatan Majlis Taklim, tetap dijalankan, Malam Jum’at membaca surat Yasin dan Pengajian secara bergiliran rumah.

Setiap dua tahun diadakan pemilihan pengurus dan Alhamdullillah, saya terpilih sebagai ketua kecuali tahun 1986 ‑ 1988 saya mengundurkan diri dan selanjutnya dari tahun 1988 s.d 2002 saya tetap terpilih sebagai Ketua. Tahun 2002 saya mengundurkan diri karena sudah sakit‑sakit.

Tahun 1974 saya ditugaskan mengukur hutan belantara di Kampung Pangkatan, kebun si Cengkok. Tanah rawa dan masih ada buayanya. Pada suatu malam teman-teman yang merintis merasa ketakutan mendengar suara ketawa. Pada hal disana tidak ada perumahan penduduk. Ternyata sakai sebangsa manusia siluman. Kebetulan saya tidak ikut bermalam dihutan.

Banyak pengalaman pahit sewaktu mengukur hutan belantara untuk dijadikan perkebunana. MisaInya di Padang Mahondang, Kepala rintis adalah sdr. Amas Dalim Siregar dengan beberapa orang anggota. Ditumbangnya pohon kayu sebesar betis dan tertimpa sarang lebah. Semua mereka disengat lebah, untung disekitar ada lalang lalu dibakar. Selamat, tidak semua lebah menyerang mereka. Disimpang Tiga Pamingke, saya langsung memimpin perintisan. Diujung rintisan sepanjang + 4 km terdengar suara mobil yang sedang mendaki dijalan raya, arah sebelah Selatan. Teman-teman menyebutkan bahwa disana ada jalan raya. Sehingga rombongan diarahkan menuju suara mobil dan diharapkan apabila ada jalan mobil insya Allah akan lebih mudah pulang ke Pamingke (penginapan). Sampai jam jam 6.00 sore tidak ada tanda‑tanda akan ada jalan. Akhirnya kami jumpai parit balok yang aromanya kurang enak, tapi satu‑satunya jalan menuju pulang adalah mengikuti parit tersebut karena diujung parit itu ada kilang papan. Sekitar jam 12.00 tengah malam akhirnya sampailah kami kebarak kilang papan dan akhirnya dapat jalan pulang dan sampai di Penginapan sekitar jam 2.00 pagi. Pengalaman yang tidak terlupakan.

Di Sungai Nahodaris terdapat tanah seluas 200 ha. milik PT. Milano yang dikembalikan pemiliknya kepada Negara. Tanah itu merupakan rawa yang baik untuk dijadikan persawahan. Saya ditugaskan untuk membagi tanah itu kepada masyarakat. Tidak ada kesulitan. Ada daratan sekitar 4 ha., masyarakat tidak mau karena di tumbuhi ilalang. Maka sesuai kesepakatan dengan Lurah dan Camat tanah itu saya ambil untuk dijadikan kebun tanaman keras. Sekarang tanah itu sudah saya alihkan kepada abang saya dan ditanami tanaman sawit.

KEGIATAN KEAGAMAAN DIKALANGAN KELUARGA DAN JIRAN

Pelajaran tilawatil Qur’an.

Tahun 1971 Bapak Iwan Matsum, Bupati Labuhan Batu membuka pelajaran Tilawatil Qur’an bertempat di rumahnya dan saya mengutus seorang kemanakan untuk mengikuti pelajaran tersebut dengan gurunya Sdri. Husna Yatim dari Tanjung Balai. Walaupun belajarnya tidak terlalu lama, namun sudah bisa dimanfaatkan untuk mendidik anak-anak di rumah ditambah dengan jiran tetangga. Kemudian kemanakan saya Saidah Pohan pindah bertugas di Silangkitang, dan pelajaran Tilawatil Qur’an dilanjutkan dengan gurunya ananda Mashuril Chomis, yang kebetulan juara II tingkat anak di Propinsi Sumatera Utara tahun 1973. Anak kami Nila Kesuma termasuk salah seorang muridnya dan sewaktu diadakan Musabaqoh Tilawatil Qur’an tahun 19.. di Kecamatan Bilah Hulu beliau mendapat Juara I tingkat anak anak. Beliau menjadi utusan Kecamatan Bilah Hulu ke Musabaqoh Tilawatil Qur’an tingkat Kabupaten di Labuhan Bilik dan berhasil jadi juara II.

Kegiatan kemasyarakatan tetap dilaksanakan walaupun kesibukan dilapangan dalam mengurus permintaan hak milik semakin banyak. Tanggal 13 April 1975 lahir anak kami yang kedelapan “ZAITUN NIZAR”. ­Menghadiri Musabaqoh Tilawatil Qur’an tingkat Kecamatan, tingkat Kabupaten bahkan tingkat Propinsi saya lakukan bersama teman teman sampai ke Tebing Tinggi.

Membangun Nasyid Puteri Syamroh.

Mengurus delapan orang anak bukanlah hal yang mudah bagi seorang istri seperti Fahimah. Namun disela‑sela kesibukannya beliau masih sempat mendirikan dan menghimpun sebuah grup Nasyid yang diberi nama Nasyid Puteri Syamroh dan sebagai gurunya adalah Hasnah Tanjung. Semua pemainnya anak-anak yang berusia 10 tahun. Nasyid anak-anak ini sangat digemari masyarakat Padang Matinggi. Namun sekarang karena pemain‑pemainnya sudah besar dan umumnya telah menikah, Nasyid ini sudah tidak ada lagi. Tanggal 4 Nopember 1976 lahir anak kami yang kesembilan diberi nama “AHMAD MUDARRIS”.

Penyembelihan Qurban

Disela‑sela kesibukan mengadakan pengukuran tanah tanah objek Landreform di Panyail tahun 1976 saya sempatkan juga mengkordinir penyembelihan Qurban di Mesjid Uswatun Hasanah Padang Matinggi. Sebagai Sckretaris Panitya Pembangunan Mesjid Uswatun Hasanah Padang Matinggi dari tahun 1974 s.d 1988 kegiatan penyembelihan Qurban secara rutin dilaksakan setiap tahun. Selaku Ketua HPK Kegiatan kegiatan sosial seperti menyantuni kemalangan, mengatur fardhu kifayah, fidiyah dll. tetap saya laksanakan bersama teman teman pangurus lainnya

Penyembelihan hewan Qurban, acara rutin setiap tahun sejak tahun 1976

Mengikuti MTQ Propinsi Sumatera Utara ke X tanggal 13 Juni 1977. HPK aktif ambil bagian, turut pawai ta’aruf

Mengutip Uang Harga Retribusi Tanah Objek Landreform

Sekitar bulan April 1975, kami Pegawai Kantor Agraria menga kan rapat dibawah pimpinan Bapak H.Raja Sulong Bahsyan tentang evaluasi uang pemasukan kepada Negara dari retribusi tanah tanah objek Landreform di seluruh Labuhan Batu. Ternyata daerah PANTAI belum ada uang yang masuk. Karenanya sebagai Kordinator PANTAI saya mengusulkan kepada Pimpinan agar saya dibenarkan memanggil masyarakat di PANTAI yang telah memiliki SK.Gubernur atas Pimpinan dan diberi cap Jawatan. Bapak H.Raja Sulong Bahsyan membenarkan dan sejak bulan April 1975 saya laksanakanlah tugas Itu dengan kerjasama dengan Kepala Desa setempat.

Penghasilan yang Lumayan

Dalam setiap pertemuan dengan masyarakat, yang pertama saya anjurkan agar uang pewasukan kepada Negara dapat dibayar dan apabila tidak dibayar sesuai pasal lain dari Surat Keputusan Gubernur Hak Milik bisa batal dan tanah kembali kepada Negara melalui Bank Rakyat Indonesia Cabang Rantauprapat. Kepala Desa, Camat dan Agraria tidak berhak menerima uang tersebut. Mengingat jaraknya daerah Pantai ke Rantauprapat, masyarakat mengusulkan supaya dicari solusi yang terbaik, harga tanah dapat dibayar namun waktu tidak tersisa serta uang tidak terlampau banYak keluar. Waktu itu dari Labuhan Bilik ke Rantauprapat selama 2 malam akan dikenakan biaya Rp.15.000.‑ ongkos dan penginapan serta transport beca di Rantau Prapat. Saya katakan kalau sama-sama ikhlas, percaya dan yakin kepada saya, tugas itu dapat saya laksanakan dengan surat kuasa sekaligus menyerahkan buku Sk.Milik dan uang yang dibutuhkan yang jumlahnya kadang kadang tidak sampal Rp.15.000.‑ rupiah. Yang perlu kesepakatan berapa pengganti uang ongkos ke kota Rantauprapat. Saya katakan kalau Rp.3.000./KK saya sanggup.

Tambahan uang ini untuk menjaga kemungkinan terjadi hal hal yang tidak diingini misalnya perampokan, hilang dan laini-lain. Semua masyarakat yang hadir menyetujui dan pada tanggal yang ditetapkan masing orang membawa uang yang dibutuhkan setelah ditambah Rp.3.000.‑ Pada hari pertama ada 200 masyarakat yang melunasi kewajibannya. Ini berarti bahwa uang yang masuk kepada Negara mencapai Rp.4.000.000.‑ sedang saya peribadi mendapat Rp.600.000.‑

Lima tahun hal ini berjalan dan saya mendapat upah membawa uang tersebut lebih dari Rp.10.000.000. Walaupun kesibukan saya terfokus kepada pemasukan uang retribusi, namun tugas-tugas lain seperti pengukuran objek objek Landreform terus dilaksanakan. Uang tersebut yang diterima secara bertahap akan dipergunakan sebagai saya uraikan dibawah ini.

IBUNDA DIPANGGIL ILAHI

Tanggal 20 Mei l976 ibunda tercinta Aminah Pohan meninggal dunia setelah menderita sakit lebih kurang delapan tahun. Lima belas hari sebelumnya beliau dalam keadaan koma. Ibunda dikebumikan disamping pusara ayah di pemakaman umum Lobu Rampah. Tahun 1977 kakak Faisyah, kakak nomor dua yang sudah ditinggal suaminya sejak 6 tahun yang lalu mengalami kesulitan ekonomi di Kampung Batu Satu Marbau, maka beliau bersama anak‑anaknya saya pindahkan ke Simpang Ajamu, karena di Sei Jawi‑Jawi ada saya buka tanah seluas 10 Ha. persawahan. Kemudian menyusul kakak Jamiah dengan suaminya Asli Hasibuan, karena ekonominya di Kampung Aldian Torop kurang baik. Kakak Faisyah dan Kakak Jamiah menempati rumah yang saya bangun di Simpang Ajamu, atap seng, lantai semen, dinding papan pakai loteng atau dua tingkat. Malang setelah setahun lebih kakak Faisyah disana beliau mulai sakit‑sakitan dan akhirnya meninggal dunia. Beliau dikebumikan dipemakaman umum Tanjung Sarang Elang.

Akhirnya kakak Jamiah dan suaminya abang Asli Hasibuan pindah dari Tanjung Sarang Elang dan bertempat tinggal di Loburampah. Di Loburampah sendiri adek Sori Banian, setelah ibunda meninggal menikah dengan Somad Pohan, masih famili. Adek Ridwan yang menikah dengan adek Nurhailan Lubis tidak lama setelah ayah meninggal menempati rumah yang dibelikan oleh mertuanya di Aek Kota Batu. Si bungsu adek Anwar Effendi yang menempati rumah pusaka akhirnya mandah ke Pematang Siantar, sehingga rumah pusaka ditempati oleh kakak Jamiah. Tanggal 27-06-1979 hari Rabu lahir anak kami yang kesepuluh ABDUL HAKIM yang merupakan anak bungsu.

Membangunan Kebun, Rumah Dan Membeli Alat Transportasi

Uang yang diterima sebagai upah membawa uang yang jumlahnya cukup lumayan saya belikan tanah pertanian. A1 Hamdulillah dapat 20 Ha. dengan harga per Ha. Rp.100.000.‑ di Dusun Kampung Jawa dam dusun Perlayuan. Tanah merupakan bekas rambung tua yang tidak her produksi lagi. Tanah itu secara bertahap saya tanami dengan tanam an sawit, tapi waktu itu harga sawit sangat rendah.

Menanam sawit untuk bekal hidup dihari tua

Selain itu uang yang saya terima dipergunakan mengganti rumah yang semi permanen dan menambah luasnya, itulah rumah yang saya tempati sekarang ini. Selebihnya saya pergunakan untuk mengganti kereta bekas dengan GL Pro 125 cc agar lebih lancar bertugas kelapangan. Pendek kata uang yang diperoleh dimanfaatkan dengan sebaik‑baiknya untuk melengkapi kebutuhan rumah tangga.

IBU MERTUA KEMBALI KERACHMATULLAH

Istri saya Fahimah sudah sebulan sakit. Sudah dibawa ke Dokter di Rantauprapat, namun belum juga sembuh. Akhirnya kami sepakati dibawa ke Dokter Mohd.Arifin. Ternyata beliau kurang darah HB darahnya rendah sekali, sehingga harus diopname. Dokter menganjurkan dibawa kerumah sakit Elizabeth. Seminggu disana Alhamdulillah berangsur sembuh dan kami boleh pulang.

Ibu mertua berpulang ke rahmatullah, saat upah-upah diserahkan kepada jamaah haji yang pertama dari HPK. alm. H.Abdul Hamid Hasibuan diupah oleh alm. H. Bahrum Nahar Nasution

Dibulan Ramahan 1980, ibu mertua satu‑satunya orang tua kami mulai sakit. Saya meminta supaya supaya beliau tinggal bersama kami di Jalan Cemara dan disetujuinya. Setelah menderita sakit selama 20 hari, maka pada tanggal 4 Syawal tahun 1980 beliau meninggal dirumah kediaman kami. Ada sesuatu kelebihan sewaktu beliau meninggal dunia. Betapa tidak, pada malam itu, Pengurus HPK sudah sepakat akan diadakan halal bi halal anggota HPK sebanyak 150 orang dan beberapa orang istri Pengurus. Pada malam itu pula untuk pertama kali diadakan upah upah terhadap jemaah yang akan menunaikan ibadah haji, yaitu BAPAK ABDUL HAMID HASIBUAN. Rumah dihias begitu rupa, ada pelaminan walau ala kadarnya. Hadir Ketua DPRD Labuhan Batu Bapak H.Bahrum Nasution dan beberapa orang ulama di Labuhan Batu seperti Bapak II.Ibrahim Yusuf alm. Bapak H.Mohd.Nur Marpaung alm. dll. Disaat saat menyampaikan upah upah setelah selesai bermaaf‑maafan, disaat itulah beliau menghembuskan nafas terakhir. Inna lillahi wainna ilihi rojiun. Beliau dimakamkan berdekatan dengan alm. suaminya LOBE KANDAK POHAN di Pindoan Bulan Desember 1980 saya ditimpa penyakit roumathik. Beberapa hari saya tidak dapat berjalan, dan setelah diberi obat oleh Dokter, alhamdulillah sembuh. Ada setahun baru terulang kembali.

Berobat Ke Sibolga

Pada bulan Oktober 1982 datang tamu saya seorang warga asing dari Medan. Sebenarnya ada urusan ke Kantor Agraria Daerah Labuhan Batu tapi karena hari itu saya sakit (roumathiknya kambuh), langsung beliau datang ke rumah. Setelah mendapat kabar bahwa saya sakit roumathik di kamar beliau langsung masuk ke kamar menjumpai saya. Waktu itu penyakit roumathik saya kambuh, lutut besar seolah-olah berisi air, tidak dapat digerakkan. Menurut beliau ada dua cara pengobatan roumathik terutama yang di lutut, yaitu pertama secara operasi, dan kedua mandi-mandi di pantai laut yang kadar garamnya cukup tinggi dan sekaligus berjemur di pasir pantai. Dalam hati saya cara pertama tidak bisa saya terima, saya khawatir sulit untuk menyambungnya kembali. Namun cara kedua dapat saya terima dan tempatnya akan saya pikirkan dimana yang terbaik.

Setelah berobat ke Dokter di Rantauprapat, roumathik mulai sembuh, saya rencanakan untuk berobat dengan cara kedua, tempatnya di Sibolga pantai Pandan. Setelah mendapat izin untuk libur dari kantor, saya bersama istri Fahimah Pohan berangkat menuju Sibolga. Bus Sanggarudang yang membawa kami tiba jam 16.00 WIB. Besok paginya kami berangkat menuju pantai Pandan, karena pantai ini cukup indah dengan gelombang laut dan hempasannya di pasir putih.

Fahimah pohan tetap mendampingi suami Bahroam Dalimunthe, dalam acara berobat berendam di Pantai Pandan Sibolga

Setiap pagi kami berangkat dari penginapan menuju lokasi. Disini diatas pasir yang bersih yang kadang-kadang disiram hempasan ombak saya membuat lobang. Istri saya Fahimah Pohan turut menimbun badan saya. Panas matahari, air laut dan pasir merupakan obat badan rasa dikusuk. Waktu jam 11.00 s/d 13.00 WIB adalah waktu yang tepat untuk berjemur, karena cuaca cukup panas. Empat hari kami berulang dari penginapan ke pantai Pandan. Mengingat banyak tugas-tugas di Kantor maka saya mengambil inisiatif untuk mempersingkat pengobatan di Pandan ini, namun pengobatan dapat diteruskan dengan cara lain. Matahari bisa saya dapat di Rantau Prapat, pasir saya masukkan ke dalam goni (+ 5 goni) dan air laut sebanyak 5 jeregen saya naikkan ke dalam mobil yang kami tumpangi. Dipekarangan rumah saya gali lobang yang kena panas dari jam 11.00 s/d 13.00 siang. Saya ambil plastik agar air tidak meresap ke dalam tanah, saya masukkan pasir dan air yang saya bawa dari Sibolga. Ditempat ini saya berjemur lebih kurang 2 jam setiap hari, dan bisa dimanfaatkan lebih kurang setengah bulan. Ada perobahan yaitu agak lama baru kambuh kembali.

IKATAN KELUARGA

Cita‑cita untuk menunaikan ibadah haji sudah terbuka. Ongkos telah tersedia, sudah terdaftar tinggal menunggu keberangkatan. Saya melihat kekurangan dikalangan keluarga, terutana pada waktu lebaran, setelah ibu Mertua meninggal dunia, tidak ada tempat berkumpul sekaligus yang merupakan kebiasaan kami sewaktu beliau masih ada. Maka pada tahun 1983, hari Lebaran pertama saya anjurkan kepada kakak dan adik istri saya supaya 1 lebaran kumpul dirumah kakak yang tertua. Karena jumlah keluarga tujuh orang, dinamakan keluarga tujuh dan sekarang setelah 25 tahun, sudah merupakan arisan bulan yang dinamakan IKATAN KELUARGA TUJUH. Diadakan sekali sebulan secara bergiliran.

Tidak beda dengan saya yang terdiri dari enam keluarga disebut IKATAN KELUARGA ENAM juga telah berjalan 25 tahun._Hanya pertemuan silaturrahmi diadakan sekali setahun tepatnya tanggal 11 Syawal secara bergiliran diantara 6 bersaudara. Tahun 1989 saya menikahkan putri saya yang pertama. Saya mengundang keluarga seperti alm.abang Saem dari Bandar Durian, abang Harman dari Ajamu serta adik alm.Uteh dari Titialoban Sigambal. Saya dan ketiga orang yang saya sebutkan tadi merupakan cucu dari empat orang nenek tapi sayang mereka tidak kenal satu sama lain. Setelah saya terangkan bahwa nenek kami adalah bersaudara kandung mereka menangis sambil memohon kepada saya untuk mempertemukan cucu dari enam orang nenek kami yang tersebar di Sumatera Utara. Tiga tahun kemudian yaitu tahun 1992 hasrat mereka saya penuhi karena satu‑satunya orang yang mengetahui nama dan alamat keturunan enam orang nenek adalah saya sendiri. Maka sejak tahun 1992 terbentuklah IKATAN KELUARGA JAMARDA. Jamarda adalah ayah dari enam bersaudara nenek kami, mempunyai cucu 30 orangg cicit 133 orang dan piut lebih 700 orang. Walaupun tidak seluruhnya hadir, namun sekali setahun diadakan pertemuan silaturrahmi dengan cara berpindah. Semua ini merupakan hidayah dari Allah SWT sehingga terbuka hati mempersatukan seluruh keluarga, baik keluarga istri, keluarga saya dan keturunan unyang JAMARDA.

MENUNAIKAN IBADAH HAJI

Hasrat untuk menunaikan ibadah haji terbetik sejak tahun 1974 sewaktu alm.H. Ibrahim Yusuf kembali dari tanah suci dengan naik kapal laut. Waktu itu dimusyawarahkan bahwa beliau harus diupah-upah dan sebagai hasil musyawarah beliau diupah-upah dirumah kediaman kami. Tatkala beliau sedang dipelaminan rasa iri hati bercampur haru dan entah apa lagi namanya begitu menyentak hati dan kalbu kami. Namun keadaan belum memungkinkan, keadaan keuangan belum mengizinkan, pada hal ongkos haji waktu itu baru Rp.700,00.

Barulah pada tahun 1983 kesempatan terbuka. Dengan menjual peladangan di Sei Jawi‑jawi, perumahan di Tanjung Sarang Elang dan peladangan di Perlayuan + 1/5 ha, akhirnya cukup untuk memberangkatkan dua orang. Bulan Agustus 1983 berangkatlah saya dengan istri H.Fahimah Pohan menunaikan ibadah Haji dengas ongkos Rp.3.250.000/orang. Kami masuk kelompok terbang (kloter) VIII Medan, Jumlah jamaah 63 orang.

Tahun 1983, saat akan meninggal kampong halaman menunaikan ibadah haji, diantar keluarga, jiran tetangga

Selebihnya adalah jamaah asal Aceh. Kebetulan saya ditunjuk Kepala Regu dengan anggota 9 orang. Diantaranya buya Malim Kanten, Bapak Sanusi dan istri dari Negeri Lama. Kebetulan di Medinah ada anak buya Malim Kanten yang sedang kuliah bernama Tanwir. Akhirnya ketiga jamaah dari Negeri Lama saya serahkan sepenuhnya kepada beliau. Jadi tinggallah menjadi tanggung jawab saya 7 orang yaitu bunda alm.Hj.Saerah dari Kota Pinang, alm.Tgk.Giah, alm. H.Siti Oman, Hj.Azizah Hj.Sariah dan kami berdua bersama istri.

Setelah menempuh perjalan selama 9 jam (1 jam singgah di Abu Dhabi), sekitar jam 5.00 pagi waktu Saudi, mendaratlah pesawat kami di Jeddah. Dari Jeddah kami langsung menuju Medinah mengerjakan shalah Arba’in serta jiarah ke tempat bersejarah seperti Chandak, Makam Suhada Hamzah, Mesjid Qiblatin, Mesjid Quba, pemakaman Baqi dll. Tidak lupa setiap hari ziarah ke Makam Rasulullah SAW, membaca Al Qur’an dan menyampaikan salam sahabat‑sahabat dari Indonesia. Setelah delapan hari berada di Madinah dibawah bimbingan Martab Syeikh Batubara, akhirnya kami berangkat ke Mekkah. Di Mekkah kami mendapat beberapa keberkatan sebelum menunaikan ibadah Haji.

Baru beberapa hari kami sampai di Mekkah, datang 2 orang pemuda bangsa Arab, menjumpai kami membawa buah‑buahan. Rupanya mereka adalah keluarga Kakak Hj. Fatmah/ R.S.Bahsyan yang memberangkatkan alm. Hj.Tgk.Giah. Kemudian datang lagi kemanakan alm. Hj.Yk.Saerah yang sudah lama bermukim di Mekkah. Setelah berbincang‑bincang lebih kurang satu jam melepas rindu yang kadang‑kadang dengan isak‑tangis, beliau pulang dan memberikan uang kepada almarhumah sebanyak 300 rial dan kemudian memberikan kepada saya selaku Kepala Regu 100 rial. Kemudian datang lagi family alm.Hj.Siti Oman. Beliau mengajak kami jalan‑jalan dengan kenderaan pribadinya ke suatu tempat yang bernama Wadi Fatmah, 75 km menuju Taif. Disana kami temui sebuab waduk yang berukuran 3 x 4 meter dengan kedalam 1 ½ meter dan kami mandi‑mandi. Suatu keajaiban, air keluar dari gunung yang tandus dan dibawah waduk itu terdapat kebun korma, katanya dulu milik Fatimah putri Rasulullah SAW. Setelah puas menikmati perjalan di gurun tandus, akhirnya kami kembali ke Mekkah kepenginapan, di PASAR SENG + 200 meter dari Mesjidil Haram.

Sebelum menunaikan ibadah Haji kami tidak lupa berjiarah, seperti Gua‑ Hira, Jabal Nur, Jabal Tsur, Jabal Rahmah, Mesjid Jin, Pemakaman Ma’la dan lain-lain. Hampir setiap hari kami bisa tawaf di Mesjid Haram karena jaraknya dari penginapa hanya 200 meter. Kewajiban haji kami laksanakan sebaik mungkin, menghindarkan segala hal yang membatalkan haji. Wukuf di Arafah bermalam di Muzdalifah, melontar jumroh di Mina. Tempat‑tempat itu tidaklah seperti sekarang ini, misalnya di arafah hanya merupakan padang tandus, tidak ada pepohonan kamar mandi serba darurat.

Sekarang telah ditumbuhi pohon yang mulai rindang, kamar mandi serba permanen. Juga di Muzdalifah hanya diterangi beberapa 1ampu, sehingga waktu mengambil batu kita harus mempergunakan senter. Sekarang lampu‑lampu cukup terang, tanahnya sudah diaspal kasar, sehingga kalau mengambil kerikil harus memakai pahat dan martil. Begitu juga di Mina, tenda‑tenda, kamar‑mandi serba darurat, terowongan baru satu buah sehingga sering kecelakaan. Sekarang terowongan sudah dua buah dan dibuat dengan dua arah. Setelah menyelesaikan ibadah haji dengan harapan haji mabrur kami kembali ke tanah air dengan selamat. Tidak ada jemaah Labuhan Batu yang meninggal.

PIRLOK‑PIRBUN DAN P3RSU

Pendataan Pirbun

Ibadah haji sudah saya laksanakan, tugas di Kantor Agraria sudah menanti. Saya tidak lagi bertugas di Pantai tapi dipindah-tugaskan mendata Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Perkebunan di Labuhan Batu seperti kebun Aek Torop, Aek Raso di Kecamatan Kota Pinang, Silumajang di Kec. Na.IX‑X. Yang didata adalah calon penggarap, apakah layak diberikan atau tidak

Pendataan PIRLOK

PIRLOK tersebar dibeberapa Kecamatan di Labuhan Batu, Kec. Kualuh Hulu, Kec. Aek Natas Kec.Na.IX‑X, Kec.Marbau, Kec.Bilah Hulu, Kec.Kota Pinang dan Kec. Sungai Kanan. Hampir setiap hari saya kelapangan bersama petugas PTP III dan kadang-kadang harus bermalam. Meneliti para penggarap apakah layak mendapat PIRLOK, meneliti peroleh tanahnya atau alas haknya, dan manyesuaikan peta dengan keadaan lapangan.

Pendataan P3RSU

Proyek Pengembangan Perkebunan Rakyat Sumatera Utara (P3RSU) ada di Kec.Kualuh Hulu, yaitu P3RSU Londut, P3RSU Damuli, di Kec. Bilah Hulu P3RSU Bandar Gula dan P3RSU Aek Nabara. Sama dengan diatas, penelitian hanya diarahkan kepada calon-calon penggarap

Meneliti lokasi P3RSU di Londut

Penerbitan SK Hak Milik

Penerbitan SK Hak Milik ketiga Proyek tersebut dilaksanakan di Kantor Agraria Labuhan Batu atas nama Kanwil Agraria Propinsi Sumatera Utara. Persiapan penerbitan SK Hak Milik ini adalah tugas saya di Kantor. Delapan tahun tugas ini saya tekuni, menerbitkan SK Hak Milik, menghadiri rapat-rapat dan lain-lain sehingga hampir 20.000 persil kapling tanah sudah dapat di terbitkan SK hak miliknya. Selanjutnya diterbitkan Sertipikat oleh Seksi Pendaftaran Tanah.

KEGIATAN KEMASYARAKATAN

Walaupun saya sibuk dengan kegiatan kegiatan kantor sebagaimana diuraikan diatas tadi, namun kegiatan kemasyarakatan tetap menjadi perhatian, Selama 32 tahun menjadi Ketua HPK banyak kegiatan yang dapat diperbuat misalnya :

-          Menghadiri Wirid Yasin setiap malam Jum’at

-          Mengkordinir penyembelihan hewan Qurban yang dimulai sejak tahun 1976, sampai saya mengundurkan diri sebagai Ketua HPK.

-          Mengadakan halal bi halal keluarga HPK ditempat kediaman kami setiap tahun.

-          Membentuk Majlis Taklim untuk peribadi kami dan anak asuh kami yang silih berganti dan kalau dijumlahkan lebih 20 orang,

-          Mengupah‑upah jamaah calon haji anggota H.P.K, termasuk T.H. Milwan di kediaman kami, karena beliau juga anggota HPK. Biasanya dihadiri oleh Wakil Bupati, Ketua DPRD dan beberapa Kepala Dinas, karena daerah kerja HPK mencakup tempat tinggal mereka.

Mengupah-upah jamaah haji, termasuk H.T. Milwan di rumah kediaman kami.

-          1978 mengkoordinir pemasukan listrik ke Lingkungan Padang Matinggi, sekaligus membuka jalan yang tadinya jalan setapak,  dapat dilalui kenderaan roda enam, sekarang sudah diaspal hotmik

-          Dirumah kediaman kami pernah dilaksanakan pensyahadatan  orang yang masuk Islam seperti

  1. Syamsidar Simbobon, beragama Kristen Protestan
  2. Tunggul Simanungkalit, beragama Kristen Protestan
  3. Panolo Halawa, beragama Kristen Protestan
  4. Holdo Pasaribu, beragama Kristen Protestan
  5. Gading Simbolong beragama Kristen Katolik

Sedang mengucapkan dua kalimat Syahadat, Fontina br. Simbolon masuk Islam disusul Holdo Pasaribu, bertempat di kediaman kami.

Setiap pensyahadatan, dihadiri oleh Kepala Kelurahan Padang Matinggi, P3 NTR dan pemuka‑pemuka masyarakat.

MASUK ORGANISASI AL WASHLIYAH

Kegiatan Hj.Fahimah Pohan

Sejak tahun 1988, saya dan Hj.Fahimah Pohan memasuki Organisasi Al Washliyah Labuhan Batu. Hj.Fahimah Pohan sebelumnya yaitu sejak tahun 1985 sudah diangkat menjadi Sekretaris Wirid Yasin Uswatun Hasanah dan tahun 1997 sampai sekarang beliau diangkat sebagai Ketua Wirid Yasin Uswatun Hasanah Padang Matinggi.

Sebagai anggota Al Washliyah dalam Muscab. 1994 Hj.Fahimah Pohan duduk sebagai Wakil Sekretaris untuk masa bhakti 1994 s.d 1999 dan selanjutnya sebagai Wakil Bendahara untuk masa bhakti 1999 s.d 2004. Disamping jabatan sebagai Wakil Sekretaris, Hj.Fahimah Pohan diangkat sebagai Ketua Cabang Muslimat Rantau Utara selama dua periode yaitu dari 1997 s.d 2005. Pada masa beliau menjadi Ketua Cabang Muslimat Kec. Rantau Utara berdirinya 6 (enam) Pengurus Ranting, yaitu :

  1. Ranting Kelurahan Kartini
  2. Ranting Kelurahan Padang Matinggi
  3. Ranting Kelurahan Padang Bulan
  4. Ranting Kelurahan Sirandorung
  5. Ranting Kelurahan Pulo Padang
  6. Ranting Kelurahan Aek Paing

Memimpin Nasyid Uswatun Hasanah juga mengadakan acara pelatihan kepemimpinan Muslimat Al Washliyah

Beliau memimpin ibu‑ibu Muslimat Al Washliyah Kecamatan Rantau Utara mengadakan arisan setiap bulan dilengkapi dengan ceramah agama, pelatihan kepemimpinan, keterampilan membuat tas manik-manik, tas dari tali kur, membuat bunga dari pipet, memasak kua dan memasak taucho untuk dipasarkan kepada warga Al Washliyah.  Mengajak warga muslimat Al Washliyah beranjangsana ke Panti Asuhan

Al Arif Al Washliyah. Beliau juga mendirikan Nasyid Uswatun Hasanah yang saat ini sangat diminati masyarakat Rantauprapat.

Kegiatan H.Bahroem Dalimunthe

Tahun 1992 saya diangkat sebagai Kepala Seksi Hak-Hak Atas Tanah. Tugas tidak lagi terlampau berat hanya meneliti surat‑surat yang akan diterbitkan SK. Hak Milik, meneliti perkembangan sengketa tanah, membuat laporan bulanan. Bulan Nopember 1995 saya memasuki masa PURNA BHAKTI. Sebelum memasuki masa purna bhakti, saya membuat acara SYUKURAN PENSIUN dua kali, pertama bersama teman‑teman se Kantor di kebun kelapa sawit dan kedua di rumah kediaman kami di Jalan Cemara 89 Padang Matinggi dengan mengundang tokoh masyarakat umumnya anggota HPK. Setelah itu saya telah bebas berkiprah di Al Washliyah.

MUKTAMAR AL WASHLIYAH

Muktamar Al Washliyah keXVII  di Jakarta

Setelah memasuki organisasi Al Washliyah, kegiatan seolah rangkap, tugas di Kantor Agraria dan tugas di Al Washliyah. Dalam MUSDA Al Washliyah tahun 1992 saya terpilih sebagai Wakil PD. Al Washliyah Labuhan Batu, Majlis Dakwah dan Amal Sosial. Tahun 1992 diadakan MUKTAMAR Al Washliyah ke XVII di Jakarta. Saya berkesempatan untuk hadir bersama teman-teman, diantaranya alm.buya H.Pangeran Babiat, PC. Al Washliyah Kec.Marbau.

H. Bahroem Dalimunthe dengan tekun mengikuti ceramah Ketua Umum PB Al Washliyah tahun 1992 di Jakarta

Selesai Muktamar kami berkunjung kerumah tulang “H.AHMAD SIREGAR” putera Marbau yang telah bermukim di Jakarta dan seorang pengusaha trailer yang sukses. Beliau berkenan membawa saya dan buya H.Pangeran Babiat keliling kota Jakarta, seperti Taman Mini Indonesia Indah, Ancol, Lubang Buaya yang bersejarah, Mesjid Istiqlal, Monumen Nasional yang cukup mengagumkan, Taman Safari Indonesia dan lain-lain.

Muktamar Al Washliyah ke XVIII di Bandung

Tahun 1997 Muktamar Al Washliyah ke XVIII diadakan di Kota Bandung. Pada kesempatan ini Hj.Fahimah sebagai Wakil Sekretaris PD.Muslimat Al Washliyah Labuhan Batu berkesempatan untuk menghadiri Muktamar Al Washliyah ke XVIII di Bandung. Rombongan kami sengaja naik bus. Dua bus ber-AC cukup menyenangkan membawa rombongan dari Labuhan Batu. Setelah menempuh perjalanan 2 hari 3 malam, kami sampai dengan selamat di Jakarta dan untuk sementara sebelum berangkat kami ditempatkan di Asrama Haji lama.

Menghadiri Muktamar l Washliyah ke XVIII di Bandung. Pelayanan Hotel Hasanah yang memuaskan tak dapat dilupakan.

Sebahagian Muktamirin langsung ke Bandung, sedang saya dan Hj. Fahimah Pohan dengan 30 orang lainnya dari utusan se-Indonesia berkesempatan menghadiri acara pembukaan di Istana Wakil Presiden yang waktu itu Bapak JenderaI (Purn) TNI Tri Sutrisno. Ah, betapa bahagianya bisa bersalaman dengan Wakil Presiden.

H. Bahroem Dalimunthe dan Hj. Fahimah Pohan menghadiri Muktamar Al Washliyah tanggal 25 November 1997 sambil bersilaturrahmi dengan Wakil Presiden Tri Sutrisno di Istana Wakil Presiden

Muktamar Al Washliyah ke XIX di Jakarta

Sebagai salah seorang Wakil Ketua PD.Al Washliyah Labuhan Batu saya turut menghadir Muktamar Al Washliyah ke XIX di Jakarta. Hajjah tidak ikut, ada kesibukan keluarga di Rantauprapat. Semua rombongan Labuhan Batu diberangkatkan dengan pesawat udara tidak terkecuali saya sendiri. Muktamar di adakan di Asrama Haji Pondok Gede. Semula Muktamar berjalan lancar, namun saat-saat pemilihan Ketua Umum terjadi kerusuhan. Sebahagian Muktamirin menghendaki agar Ketua Umum H.Aziddin SE diganti dan sebahagian lagi mempetahankannya. Setelah melalui perdebatan yang sengit akhirnya beliau terpilih lagi untuk periode 2004-2009. Menjenguk besan di Bekasi, anak di Jokjakarta yang sedang kuliah membuat saya terlambat pulang. Tiga hari kemudian baru saya pulang, langsung dari Jokjakarta ke Medan seterusnya ke Rantauprapat.

KEGIATAN KEAGAMAAN SESUDAH PENSIUN

Wakaf Jalan dan sumur

Didepan rumah kami terdapat 17 rumah tangga terisolosir karena sampai tahun 1998 belum ada jalan umum menuju kompleks  tersebut. Saya bersama Hj.Fahimah sepakat untuk mewakafkan  dari tanah kami seluas 50 x 3 meter dari Jl. Cemara menuju kompleks tersebut dan dengan anjuran dan harapan agar mereka bisa menambah jalan tersebut. Akhirnya dapat jalan sepanjang 500 x 3 meter, dinamakan GANG UMMI FAUZIAH. Sekarang gang ini sudah diaspal dan dimanfaatkan masyarakat. Disudut tanah kani yang berbatasan di  dengan kompleks perumahan penduduk tersebut diatas terdapat  sumber mata air yang cukup bagus dan sudah dijadikan sumur darurat. Kemudian sumur tersebut saya bangun secara permanen  dan diberi dinding dengan 5 x 5 meter dan saya wakafkan untuk  masyarakat.

Terbentuknya Majlis Taklim UMMI FAUZIAH

Seiring dengan pembukaan gang Ummi Fauziah kepada masyarakat yang tadinya terisolir tersebut saya anjurkan untuk  membentuk Majlis Taklim dan sejak tahun 1998 berdirilah di  tempat itu Majlis Taklim Ummi Fauziah dan belajar satu kali  dalam seminggu dengan mata pelajaran Fiqh dan Tauhid.

Setiap saat ada Majlis Taklim di Masjid, pada gambar alm.Ustadz H. Ibrahim Yusuf selesai menyampaikan ceramah

Menyantuni Fakir Miskin

Tahun 1999 datang seorang anak tetangga menyampaikan bahwa  hari itu mereka belum makan karena tidak ada yang akan dimasak. Selaku Ketua HPK saya benar-benar terpukul dengan berita itu. Sekedar untuk makan hari itu diusahakan namun untuk  selanjutnya perlu dipikirkan bagaimana menyantuni fakir miskin yang ada di lingkungan kerja HPK, Diantara 330 anggota,  terdapat Penguasa, Pengusaha, Kepala Dinas dan beberapa orang yang mampu. Sebagai Ketua HPK saya surati mereka meminta beras seikhlas hati. Mudah‑mudahan mendapat sambutan yang  cukup baik, sehingga setelah berjalan satu tahun dapat dikumpulkan 1.400 Kg setiap bulan dan dapat menyantuni 200 Kepala Keluarga Fakir Miskin. Saya betul-betul merasa bahagia dapat  membantu fakir miskin. Kemudian diketahui pulalah bahwa banyak anak fakir miskin yang belum berkhitan, pada usianya  sudah pantas dikhitan. Usaha menyantuni fakir miskin dan anak yatim ini mendapat tanggapan khusus dari Bapak Bupati Labuhan Batu Tk. Milwan.

Rumah yang sudah permanent dengan luas lantai 300 m2 di manfaatkan tempat menyantuni anak yatim, fakir miskin dan kaum duafa. (X. H. Bahroem Dalimunthe)

Selama tahun 2000 hal ini menjadi pembicaraan khusus dalam pertemuan dengan Kepala Dinas, Camat bahkan dalam acara Safari Ramadhan tahun 2000 dan 2001 ataupun kunjungan ke daerah. Yang dikagumkan ialah saya seorang tua yang tidak mempunyai jabatan apapun di Pemerintah mampu menghimpun beras 1.400 kg dan menyantuni fakir miskin 200 orang setiap  bulan. Tentu kalau mau Kepala Dinas dan Camat di daerah akan lebih mampu lagi. Beliau menganjurkan agar cara yang telah diperbuat di contoh dan dilaksanakan masing-masing. Sebagai usaha saya lakukan beliau anggap suatu prestasi yang harus dicontoh, maka beliau menempatkan saya sebagai seorang tokoh masyarakat Labuhan Batu dari tahun 2000 s/d 2004.

Selama tahun-tahun tersebut saya sering hadir di Pendopo Kabupaten, menerima tamu-tamu seperti KH. Abdurrahman Wahid, Akbar Tanjung, Zainuddin MZ, maupun Kepala Dinas Tingkat I Sumatera Utara. Namun sejak Agustus 2004 saya sakit, kegiatan di atas tidak dapat saya hadiri lagi.

Khitan Massal

Penyerahan beras santunan kepada fakir miskin dilakukan di halaman rumah kami. Sambil membagi beras saya daftarkan anak-anak mereka yang belum dikhitan. Ada 30 orang. Saya persiapkan segala sesuatunya termasuk tenaga medis dari Dinas Kesehatan Labuhan Batu. Tempat pelaksaan khitan Alhamdulillah tahun 1999 itu juga dapat dilaksanakan khitan massal di rumah sekolah yang terletak di depan rumah kami. Diadakan upah-upah dan tepung tawar disertai dengan bingkisan ala kadarnya. Tahun 2000 dapat lagi dikhitankan 20 orang anak yang kurang mampu.

Gedung Ummi Fauziah juga dipakai untuk tempat khitan missal anak-anak yang kurang mampu

Wakaf Tanah untuk Panti Asuhan

Kiprah Al Washliyah adalah Pendidikan, Dakwah dan Amal Sosial Mengenai pendidikan, Al Washliyah sudah memiliki Taman Kanak-kanak,   SD/Ibtidaiyah, Tsanawiyah/SMP, Aliyah/SMU/Kejuran dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al Washliyah di Labuhan Batu. Pendidikan sudah berjalan berpuluh tahun. Dakwah setiap saat disampaikan para da’i Al Washliyah yang banyak di Labuhan Batu. Hanya PANTI ASUHAN sampai tahun 2000 belum ada di Labuhan Batu apalagi di Rantauprapat sebagai ibu kota Labuhan Batu. Sebagai salah seorang Wakil Ketua PD Al Washliyah yang membidangi Dakwah dan Amal Sosial, saya memikirkan perlu secepatnya Panti Asuhan didirikan di Kota Rantauprapat. Di lingkungan Kampung Jawa, Kelurahan Padang Matinggi ada tanah saya seluas 4 ha. kebun kelapa sawit.

Penyerahan tanah seluas 3200 m2 untuk tapak Panti Asuhan Al Washliyah.

(x) H. Bahroem Dalimunthe menyerahkan akta ikrar wakaf kepada Ketua PD Al Washliyah Labuhan Batu Drs. H. Usman Ahmad

Ada niat kami sekeluarga untuk mewakafkan tanah tersebut sebagai tapak bangunan Panti Asuhan. Sebelum niat ini kami wujudkan kami meminta pendapat dan persetujuan Pengurus Pimpinan Daerah Al Washliyah lainnya. Semua menyatakan persetujuan, maka kami sekeluarga mewakafkan tanah untuk tapak Panti Asuhan Al Washliyah seluas 2000 m2 dan kemudian kami tambah 800 m2 dan masyarakat 400 m2 sehingga luas tapak Panti Asuhan itu 3200 m2. Jalan menuju lokasi belum ada, maka oleh jiran saya alm.H.Abd.Muin Ritonga pemilik tanah, diwakafkan jalan sepanjang 500 x 3 meter. Sekarang tinggal dana untuk membangunnya dari mana ?

PERGURUAN ISLAM UMMI FAUZIAH.

Sejarah Berdirinya

Tahun 1992 anak bungsu kami Abdul Hakim telah menamatkan pendidikan di SD. Selanjutnya beliau melanjutkan pendidikan ke Pesantren Darul Arafah di Lau Bakeri, Kutalimbaru Deliserdang untuk tingkatan selanjutnya. Ibunya Hj.Fahimah Pohan yang selama + 30 tahun mengurusi anak-anak, sekarang hanya mengurus kepentingan suami dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Beliau merasa gelisah, tidak ada tugas rutin lagi mengurus anak anak.

Yayasan Perguruan Islam Ummi Fauziah didepan rumah merupakan hiburan tersendiri bagi seorang pensiunan. Anak-anak bermain sambil menimba ilmu, penuh ceria aman dan bahagia.

Maka beliau mengusulkan supaya di rumah kediaman kami dalam ruangan 4 x 10 meter yang merupakan musholla diadakan pengajian anak-anak khususnya belajar Al Qur’an dengan methode Ikro’. Usul tersebut sangat saya setujui dan langkah awal 20 santri mulai belajar Al Qur’an dan beliau langsung menjadi muallimahnya. Tahun berikutnya yaitu awal tahun 1993 diterima 20 orang santri lagi, sehingga ruangan musholla setiap sore penuh dengan santriwan‑santriwati

Mendirikan Gedung Baru

Mengingat banyaknya anak-anak yang berminat mempelajari Al Qur’an menurut methode Ikro’, maka kami bermaksud untuk membangunan gedung permanen dengan ukuran 5 x 10 meter diatas tanah kosong milik kami, letaknya persis di depan rumah. Tahun 1993 berdirilah TAMAN PENDIDIKAN AL QUR’AN UMMI FAUZIAH, mengambil nama putri kami yang pertama Fauziah Hanum. Para santri memasuki gedung baru dan setiap satu tahun diusahakan taman membaca Al Qur’an, kemudian digantikan oleh santri yang lain. Tahun 1995 kami bangun lagi  lokal permanen dengan ukuran 7 x 7 m.

Bertemu dengan Perintis Methode Iqro’

Tangga1 30 Nopember 1995 saya memasuki PURNA BHAKTI.  Tanggal 16 Desember 1995 putera kami yang keenam KHAIRUNNAS DALIMUNTHE akan Diwisuda sebagai Sarjana Syari’ah pada Universitas Islam Indonesia Jokjakarta. Tanggal 11 Desember 1995, saya, Hj.Fahimah dan anak kami yang keempat Dra.Nila Kesuma berangkat ke Jokjakarta. Sengaja kami naik pesawat agar lebih cepat sampai di Jokjakarta dan tidak terlampau melelahkan. Di Jokjakarta kami langsung menemui Al Ustadz H.AS’AD UMAM di Kota Gede, Pencipta methode Ikro’ yang sudah diajarkan di Rantauprapat. Beliau sangat bergembiran dan berterima kasih atas laporan kami sekaligus kepada kami diberikan PIAGAM SYUKUR.

Sebelum acara Wisuda, kami menyempatkan diri bertamasya ke Candi Borobudur, Candi Prambanan, Parang Teritis, Istana Sultan Jokjakarta, Taman Sari dan bekas Istana Sultan Jokjakarta yang lama yang tinggal puing-puing. Acara Wisuda dilaksanakan sehari penuh di Gedung UII di Kaliurang, cukup melelahkan. Setelah istirahat sehari, besoknya kami berempat langsung menuju Semarang.

Bersama Ustadz H. As’ad Umam, pencipta Methode Ikroq, mohon doa untuk mengajarkan Methode Ikroq. Diberikan PIAGAM SYUKUR

Tujuan utama adalah ziarah ke Makam Sunan Demak, salah seorang ulama WALI SONGO. Bermalam di Demak, keesokan harinya melanjutkan perjalanan ziarah ke Makam Sunan Kali Jaga, ke Makam Sunan Kudus dan terakhir ke Makam Sunan Muria di kaki Gunung Muria. Sore hari kembali ke Jokjakarta. Beberapa hari lagi tinggal di Jokjakarta membeli oleh-oleh dan setelah + sepuluh hari di Jokjakarta, kami pulang ke Rantauprapat melalui Bandara Polonia Medan. Tugas mengembangkan perguruan Islam Ummi Fauziah sudah terbentang dihadapan mata, masyarakat banyak menggantungkan harapannya kepada pendidikan Al Qur’an yang dikelola oleh Perguruan Ummi Fauziah, mulai dari Taman Kanak Kanak Al Qur’an, Taman Pendidikan Al Qur’an atau Madrasah Diniyah Awaliyah. Taman Pindidikan Al Qurlan dan Taman Kanak Kanak Al Qur’an di dirikan tahun 1993 dan Madrasah Awaliyah didirikan tahun 1998. Kami tidak bermaksud untuk mendirikan Tsanawiyah atau Aliyah. Gedung sudah ditingkat menjadi tingkat dua, sehingga sekarang ada delapan lokal yang dapat dipergunakan, Status seko­lah yang sebelumnya merupakan Perguruan Islam Ummi Fauziah, sejak tahun 2004 dijadikan YAYASAN PERGURUAN ISLAM UMMI FAUZIAH.

PANTI ASUHAN AL ARIF AL WASHLIYAH

Gedung Permanen

Diatas telah dijelaskan bahwa PD. Al Washliyah Labuhan Batu telah memilik tanah seluas 3200 m2 untuk tapak Panti Asuhan. Dalam satu kesempatan audensi warga Pimpinan Daerah Al Washliyah Labuhan Batu dengan Bapak Tk.Milwan yang baru dilantik sebagai Bupati Labuhan Batu, Ketua PD Labuhan Batu Drs.H.Usman Ahmad menyampaikan bahwa Al Washliyah berkifrah dibidang Pendidikan, dakwah dan Amal Sosial. Dibidang pendidikan, Al Washliyah telah memiliki pendidikan mulai dari Taman Kanak Kanak sampai ke Perguruan Tinggi, Dakwah, para Da’i Al Washliyah siap terjun kapan saja diperlukan oleh masyarakat, namun Amal Sosial berupa Panti Asuhan sampai saat ini belum ada di Labuhan Batu, pada usia Al Washliyah sudah mencapai tiga perempat abad. Dalam menjawab keluhan yang disampaikan oleh PD. Al Washliyah Labuhan Batu, Bapak Tk. Milwan menceritakan bahwa sewaktu beliau menjadi Kasdim di Bekasi anak buahnya menanyakan apakah beliau akan menjadi seorang Jenderal di Negara tercinta ini. Beliau menjawab bahwa sebagai seorang perwira beliau kurang tertarik sebagai seorang Jenderal tapi lebih tertarik sebagai Kepala Daerah. Alasannya sederhana, bisa lebih banyak berbuat untuk masyarakat. Sekarang beliau sudah menjadi Kepala Daerah Labuhan Batu, cita‑citanya telah ter­wujud. Gedung Panti Asuhan tersebut insya Allah akan saya bangun lanjut beliau. Dalam tempo 6 (enam) bulan setelah pertemuan denganWarga Pimpinan Daerah Al Washliyah Labuhan Batu berdirilah ge­dung Panti Asuhan yang dihajatkan dengan bangunan permanen, yang terdiri ruang Aula, kantor, ruang penginapan anak asuh, ruang makan, kamar pengasuh, kamar tukang masak, gudang dan beberapa kamar mandi.

Tanahyang diwakafkan seluas 3200 m2 telah terwujud lokasi Panti AsuhanAl Arif Al Washliyah, gambar saat-saat peresmian tgl. 17 Juli 2002

Kepengurusan

Untuk melengkapi administrasi Panti Asuhan tersebut, Pimpinan Daerah Al Washliyah Labuhan Batu mengangkat Pengurus. Panti Asuhan tersebut dinamakan PANT1 ASUHAN AL ARIF AI Washliyah Labuhan Batu. Al Arif diambil dari nama anak Bapak Tk.Milwan, sebagai kenangan atas jasanya membangun Panti Asuhan tersebut, Susunan Pengurusnya pada tahun 2002 adalah sebagai berikut :

Penasehat                    : 1. H.Tk.Milwan

2. H.Hasyim Syahid

3. Dra. Usman Ahmad

Ketua                          : H. Bahroem Dalimunthe

Wakil Ketua I                         : M. Ali Amran Zakaria

Wakil Ketua II            : Ir. H. Marwan Effendi Siregar MM.

Sekretaris                    : H.Syamsul Bahri Siregar S.Pd.

Wk.Sekretaris I           :

Wk.Sckretaris II          :

Bendahara                   : H. Sulaiman ST.

Anggota                      : 1.

2.

3.

4.

5.

Karena kesehatan saya yang terus menurun, maka sejak bulan Agustus 2005, saya meletakkan jabatan, saya serahkan sebagai pengganti saya Wakil Ketua II Ir.H.Marwan Effendi Siregar MM. Peresmian Panti Asuhan AI Arif AI Washliyah dilaksanakan tauggal 17 Juli 20029 oleh Bupati Labuhan Batu, Kepala Dinas dan Jawatan, unsur Pimpinan Wilayah AI Washliyah Sumatera Utara, tokoh masyarakat dan agama Labuhan Batu dan undangan lainnya. Sekarang telah berjalan dengan baik dengan anak asuh 40 orang, dengan pendidikan dari Ibtidaiyah, Aliyah.

Membangun Kebun Kelapa Sawit

Dari semula kami telah berupaya untuk mendapatkan dana abadi Panti Asuhan ini. Seiring dengan peresmian Panti Asuhan tersebut seorang hamba Allah yaitu Ir.H.Abdul Hafiz Hasibuan, Wali Kota Tebing Tinggi. Diberikan secara, hibah dengan syarat pembayaran ganti pembuatas SERTIPIKAT Rp.3.000.000/Ha. atau 50 ha x Rp.3.000.000.‑ = Rp.150.000.000.‑ Pengurus Panti tidak sanggup menyediakan dana sebesar itu, maka atas kesepakatan, tanah itu dibagikan kepada para Pengurus, artinya Pengurus yang mampu boleh mengambil tanah itu. Sekaligus turut mengawasi tanah bagian Panti seluas 10.Ha. Tanah seluas 10 ha ini telah ditanami dan sekarang telah mulai berbunga (berdompet) dan insya Allah pada tahun mendatang Panti sudah mempunyai dana abadi, Semoga.

RUMAH SULUK UBUDIAH

Ingin masuk Tariqot Naqsabandiah

Setelah usia saya 50 tahun dan masih bertugas di Kantor Agraria Labuhan Batu, saya sudah berniat untuk memasuki Thariqat Naqsabandiah. Maka setelah saya memasuki purna bhakti tahun 1995, saya sengaja ke Babussalam Langkat, apakah di tempat ini cocok saya menerima, Thariqat sekaligus melaksakan chalwat (suluk) beberapa hari. Tempat pemondokan cukup jauh dari tempat bertawajjuh, sehingga sulit bagi saya untuk setiap saat ke Mesjid. Kemudian saya meninjau rumah suluk Tuan Suka Jadi di Kecamatan Kualuh Hulu. Disini kendalanya kamar mandi yang cukup jauh dari pertawajjuhan. Akhirnya saya jumpai Tuan Syeikh H.Purkan Hasibuan, di Jalan Dahlia Padang Matinggi Hulu. Sekedar berbincang‑bincang sambil mencari informasi tentang keberadaan Rumah Suluk yang dipimpinnya. Dari beliau saya dapat informasi bahwa kamar mandi dan WC cukup jauh di bawah jurang, namun kalau untuk mandi dan berwudu’ disediakan bak dan airnya dari PDAM yang diselang dari rumah warga.

Dapat dikembangkan

Melihat kondisi persulukan ini cukup prihatin. Kamar mandi hanya satu, pemondokan kaum Bapak dan kaum Ibu hanya 12 x 7 meter dibagi dua, 4 x 7 meter untuk kaum Bapak selebihnya untuk kaum Ibu. Tempat memasak dibawah kolong pemondokan, Namun saya tertarik, akhirnya saya memasuki Thariqat, ikut bertawajjuh dan bersuluk.

Memasuki Thariqat Naqsabandiah. (x)H. Bahroem Dalimunthe bersama jamaah Thariqat Naqsabandiah di Padang Matinggi hulu Rantauprapat

Mulai dibangun

Tahun kedua saya masuk Thariqat yaitu tahun 1997, saya bangun pemondokan kaum Bapak ukuran 5 x 8 meter. Kami pindah kesini dan pemondokan lama khusus untuk kaum Ibu. Disebelah timur dari lokasi persulukan terdapat tanah Warga seluas 12 x 40 meter. Karena tanah ini akan dijual langsung saya ambil sebagai tambahan tanah persulukan yang ada yang hanya 14 x 15 meter. Dilokasi yang baru dibeli saya pindahkan bangunan kaum Bapak yang berukuran 5 x 8 meter, dan saya bangunan lagi satu pemondokan untuk kaum Ibu sehingga Kaum Ibu memiliki dua unit pemondokon. Mereka pindah kemari dan bangunan lama, khusus untuk kaum Bapak. Dilokasi yang baru dibangun dua unit dapur masak, karena ibu-ibu memasak sendiri, kaum Bapak makan dirumah Tuan. Tahun 1999 bangunan sudah ditempati, hanya kamar mandi belum memuaskan. Perhatian tertuju kepada pembuatan dua buah bak mandi ukuran besar dan kamar mandi/WC, masing masing untuk kaum Bapak dan kaum, Ibu. Tahun 2000, semua sudah tersedia, air disuplai dari PDAM. Kami belum puas melihat keadaan ini. Musholla yang didirikan tahun 1993 yang terbuat dari kayu sudah terlampau kecil dan mulai lapuk. Maka pada tahun 2004 dimulailah pembangunan musholla permanen dengan ukuran 10 x 11 meter berlantai dua. Bangunan tersebut telah selesai dan dapat ditempati hanya dinding luar belum diplaster, Semoga Allah memberkahi usaha usaha yang kami perbuat. Persulukan ini dinamakan UBUDIYAH dan musholla yang ada dinamakan MUSHOLLA UBUDIYAH.

KELUARGA SAKINAH.

Pertandingan Keluarga. Sakinah Tk.Sumatera Utara.

Pada suatu malam di bulan Juli 2004 datang 5 (lima) orang tamu kami, satu orang wanita. Satu orang saya kenal dari Departemen Agama Labuhan Batu dan setelah diperkenalkan tahulah kami bahwa yang lain berasal dari Kantor wilayah Departemen Agama Sumatera Utara, Para tamu menjelaskan bahwa keluarga kami oleh Departemen Agama Labuhan Batu diusulkan untuk mengikuti pertandingan Keluarga Sakinah Tingkat I. Sumatera Utara yang akan diadakan tanggal 25 Juli 2004 di Medan. Oleh para tamu dianjurkan untuk membuat sebuah PROFIL keluarga dengan mencantumkan semua kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan yang dilengkapi dengan foto. Antara lain foto bersama Wk.Presiden Jenderal Tri Sutrisno, foto bersama Gusdur, Ihza Mahendra, Bakhtiar Chamsah, Zainuddin MZ dan foto Wisuda orang putera-puteri kami serta foto Wisuda 7 (tujuh) orang anak menantu yang kebetulan tergantung di dinding ruang tamu. Mereka juga meninjau ruang tamu, kamar tidur, dapur, bahkan kamar mandi. Di Medan Profil diteliti dan istri saya Hj.Fahimah Pohan mengikuti testing lisan dan tulisan sehari penuh, yaitu tanggal 25 Juli 2004. Pengumuman dilaksakan di Auditorium RRI Medan tanggal 30 Juli 2004 dan Al Hamdulillah, keluarga kami terpilih sebagai Juara I. Dengan demikian kami berhak mengikuti pertandingan tingkat Nasional di Jakarta dari tanggal 14 s.d.17 Agustus 2004 sebagai utusan dari Propinsi Sumatera Utara.

Penyerahan hadiah sebagai Juara I Keluarga Sakinah Teladan I

Tingkat Propinsi Sumatera Utara tahun 2004

Mendapat juara III Nasional

Tanggal 13 Agustus 2004 kami didampingi tiga orang staf Kanwil Depag. Sumatera Utara dan satu orang KUA dari Langkat, berangkat ke Jakarta dan ditempatkan di  Pondok Gede. Acara pembukaan MUNAS III BP4 dan PEMILIHAN KELUARGA SAKINAH TELADAN NASIONAL TAHUN 2004 diadakan tanggal 14 Agustus 2004 malam dihadiri Menteri Agama, Staf Departemen Agama dan seluruh peserta BPS dan Keluarga Sakinah dari Seluruh Indonesia. Malam itu semua laki laki diwajibkan memakai JAS.

Sedang para istri memakai pakaian yang indah-indah. 30 pasang Keluarga Sakinah dari 30 Propinsi di Indonesia seolah-olah akan melaksakan akad nikah. Acara pembukaan kami ikuti dengan tekun, banyak nasehat-nasehat yang didampaikan oleh Bapak Menteri Agama. Besoknya tanggal 15 Agustus 2005 dengan mengambil tempat di Gedung Utama Asrama Haji Pondok Gede diadakanlah pertandingan. Ibu-ibu dalam satu ruangan mengikuti ujian tulisan, cukup banyak pertanyaannya dan cukup melelahkan, Kaum Bapak dalam satu ruang dengan 3 (tiga) orang penguji yaitu Ibunda Prof. DR.Zakiah Darajat, DR.Mubarok dan satu lagi saya lupa namanya. Kami dipanggil secara bergiliran dan sewaktu ditanya tentang Pendidikan saya jelaskan bahwa saya hanya duduk di SR (1953), SMP (1956), Kursus Prakit Agraria Tahun 1958 dan persamaan SMA Tahun 1971. Pendidikan agama, secara formil tidak ada, hanya melalui Majlis Taklim. Anak-anak sepuluh orang. Pendidikannya sembilan orang sudah Serjana bahkan satu orang sudah S.2 sedang satu orang lagi duduk di semester terakhir di AKAKOM Jogjakarta. Lembaran pertanyaan dibalik-balik beliau dan akhirnya dikatakan beliau sudah dan pindah ke meja Bapak DR.Mubarok. Disini juga pertanyaan sama, dan hanya 15 menit saya sudah selesai, tidak seperti teman-teman hampir satu jam. Dipenginapan kami terus istirahat, karena terlampau letih seharian. Tanggal 16 Agustus 2004 semua peserta laki-laki memakai jas menuju gedung MPR, mendengar pidato kenegaraan Presiden Megawati Sukarno Puteri. Jam 12.00 siang kami menuju Gedung Utama Departemen Agama, untuk makan siang. Setelah selesai makan siang, semua peserta memasuki ruang untuk mendengar pengumuan Panitia. Kami duduk tetap berpasang-pasangan. Perlu dijelaskan bahwa peserta yang datang dari 30 Propinsi di Indonesia pada umumnya adalah Sarjana, bahkan ada yang sudah Profesor, ada pengusaha swalayan dari Batam dan ada Mantan Walikota dari Mataram. Apalagi waktu ujian, sayalah yang paling singkat waktunya dan pertanyaannya tidak banyak. Sewaktu diumumkan harapan II dan Harapan I, semua Serjana, bahkan Harapan I suaminya sudah Profesor dari Gorontalo. Karenanya tidak ada harapan kami untuk ikut sebagai pemenang. Maka ketika sampai pengumuman pemenang ke III, aialah seorang ibu rumah tangga tammat PGA, suaminya tamat SMA, mempunyai anak 10 orang, sembilan sudah Sarjana, cukup mendebarkan dan akhirnya diumumkan bahwa JUARA III ialah Ibu Hj.Fahimah Pohan dan H.Bahroem Dalimunthe dari Sumatera Utara, Kebesaran Tuhan, Allah yang menghendaki dan memuliakan hambaNYA. Acara belum selesai, tanggal 17 Agustus 2004 semua peserta menghadiri Upacara Bendera di Istana Negara dengan Inspektur Upacara Presiden R.I. Upacara hari ini sungguh meletihkan, karena kenderaan hanya boleh parkir di Mesjid Istiqlal yang jaraknya 3 KM dari Istana. Kami harus jalan kaki sejauh itu. Setelah selesai acara di Istana Negara, acara dianggap selesai. Dengan hadiah uang tunai Rp.10.000.000.- kami tinggalkan Jakarta menuju Bekasi dan selanjutnya menuju Jokjakarta, melihat anak-anak yang sedang kuliah. Tiga hari di Jokjakarta, kami kembali ke Rantauprapat.

Bersalaman dengan Menteri Agama saat menerima ucapan selamat sebagai Juara III Keluarga Sakinah Teladan Nasional tahun 2004

IBADAH HAJI

Mengejakan Ibadah Haji Untuk Kedua Kalinya

Kembali dari Jokjakarta, kesehatan saya semakin menurun. Kalau tanggal 30 Juli 2004 sekembalinya dari Medan, saya sudah sakit maka sekembalinya dari Jokjakarta semakin bertambah. Saya langsung opname di Rumah Sakit Umum Rantauprapat. Awal tahun 2004, saya sudah daftarkan diri saya untuk mengerjakan haji tanpa ikut istri. Kondisi kesehatan terus menurun, hingga sepuluh hari lagi akan berangkat haji kesehatan benar-benar sangat menurun sekali, tidak mau makan dan lebih banyak ditempat tidur. Suatu keajaiban terjadi, sehari lagi akan berangkat yaitu hari Senin pagi, (berangkat Selasa malam) tiba‑tiba kesehatan saya pulih, seolah‑olah tidak pernah sakit. Pada hal malam Sabtu sebelumnya sudah diberitakan ke Medan bahwa saya ditunda ke Kloter berikutnya. Karena kesehatan sudah pulih saya terus persiapkan barang barang yang diperlukan dan turut dalam Kloter XVIII.

Mengejakan Haji Dengan Sempurna

Kloter XVIII berangkat hari Rabu tanggal 6 Januari 2005 dan langsung masuk Mekkah. Udara cukup dingin namun bagi saya tidak menjadi masalah. Kesehatan saya tidak menggangu untuk beribadah walaupun tidak sesempurna bila dibandingkan dengan 23 tahun yang lalu. Di Arafah, di Muzdalifah maupun di Mina masih saya lakukan kegiatan kegiatan yang diwajibkan.

Banjir di Mina

Hari ketiga di Mina timbullah peristiwa banjir yang jarang terjadi di tanah Arab. Mulai jam 14 siang, turun hujan yang cukup lebat, cukup lama sampai jam 16 sore. Sekitar jam 16.00 kemah kami sudah penuh air setinggi lutut. Cukup deras sehingga banyak barang-barang yang hanyut. Saya kehilangan sepatu, sajadah, kaus kaki. Sekitar jam 16 datang perintah agar semua jamaah keluar dari kemah, menuju lapangan yang masih di guyur hujan lebat. Dikhawatirkan terjadi konslet listrik. Barulah terasa badan kurang enak, sudah udara dingin ditambah lagi hujan. Jalan-jalan sudah berubah fungsi menjadi anak sungai, mobil-mobil banyak yang hanyut.

Kami diperintahkan pindah ketempat yang lebih tinggi. Menyebarangi sungai saya dipapah dan dijaga oleh petugas haji dari Arab Saudi. Kondisi kesehatan saya benar-benar menurun dan sesuai kesepakatan malam itu saya pulang ke Mekkah. Di Mekkah saya makan obat dan Al Hamdulillah kesehatan pulih kembali.

Mengerjakan Ibadah Haji kedua kalinya, kesehatan terganggu. Setelah selesai segala rukun Haji, pulang ke Indonesia tanpa ke Madinah dengan Kloter XII

Soal melontar saya serahkan kepada teman, sedang tidak bermalam di Mina saya membayar DAM. Setelah rombongan dari Mina tiba di Mekkah, saya dengan dituntun anak Adi BATA Mahasiswa Indonesia Yang kuliah di Al Azhar, melaksanakan tawaf IFADAH dan SA’I. Jam 8 malam baru selesai dan ke betulan tidak ada lagi kenderaan ke Penginapan, sehingga harus jalan kaki sejauh 3 KM. Sayapun kembali sakit. Besoknya saya dirujuk ke Rumah Sakit Indonsia di Mekkah. Penyakit semakin parah, tiga malam saya dirumah sakit. Rombongan akan ke Medinah maka sesuai dengan saran Ketua Kloter saya tidak ikut ke Madinah, tapi dirujuk pulang ke Indonesia. Akhirnya saya pulang dengan Kloter XII Embargasi Medan dalam keadaan sakit. Kesehatan saya terus menurun. Walaupun telah dua kali saya berobat ke Penang Malaysia namun kesehatan tetap saja menurun. Rupanya penyakit yang kuderita gagal ginjal dan sesuai anjuran dokter sejak bulan Maret 2006 saya secara rutin melakukan cuci darah baik di Medan maupun di Rantauprapat sampai sekarang.

dengan segala kejanggalanndan kekurangannya. Mudah mudahan ada menfaatnya bagi naka anakku di kemudian hari, bagaimana perjuangan seorang ayah yang tidak berilmu dapat mencapai kebahadian dunia dengan mengangkat derajat putera-puteri menjadi orang orang yang berilmu dan kami sendiri, Keluara Petani miskin bisa menjadi JUARA III KELUARGA SAKINAH NASIONAL TAHUN 2004. Kepada Allah jua kami berserah diri semoga, apa yang kami perbuat merupakan amal soleh yang mendapat penilain disisiNya dan menjadi amal ibadah bagi kami sekeluarga. Amin ya Robbal’alamin.

 

0 responses to “Memory

  1. suib

    February 13, 2012 at 1:44 am

    alhamdulilah…..segala puji bagi allah yg menguasai seluruh ‘alam. thoreqoh adalah jalan seorang hamba mendekatkan diri kpd tuhannya.tiada yg mustahil bagi allah,satulangkah kt mendekatkan diri pada allah,tiga langkah allah mendekat pada kt.’ala bidzikrillah tatmannalqulub.mempebanyak mengingat allah insyaallah apa yg kt cita2kan akan tercapai sprt yg saudara ceritrakan di atas.waspadai sft ria,kerna sft itu sft iblis yg sangat2 halus didalam perasaan manusia.kt sering lalai dlm sft ini akibat nafsu,, dzikir,dzikir,dzikir dan dzikir. faman ‘arofa nafsahu faqod’arofa robbahu.ilahi robbi anta ma;sudi waridhoka matlubi ‘atini mahabbataka wama’rifataka. assalamu ‘alaikum

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 756 other followers