” Sakit bang, sakit..” begitu sering terucap saat Wina hendak melahirkan anak pertama kami. Aku hanya menasehatinya agar selalu mengingat Allah SWT. Bermohon kepadaNya agar diberi kemudahan dan tidak mengingkari kekuasaanNya.
Bermula pada hari selasa 15/4/2008, saat menjemput Wina di rumah mertua siang hari sepulang dari mengajar. Katanya perutnya udah mules-mules. Langsung saja kularikan ke klinik Hj. Nani lebih kurang 6 km dari kediaman kami. Setelah diperiksa, saran bu bidan jika malam mulesnya bertambah sering jangan ragu untuk datang.
Benar, mulesnya jadi sering sekali. Waktu menunjukkan pukul 20.30. Sebelum ke bidan ku ajak Wina ke rumah kak Nila jarak 50 meter untuk menanyakan hal tersebut. Pesan kak Nila lebih dibanyakin gerak dan kalau pandangan sudah gelap juga tak kuat berjalan itulah saatnya. Menurut prediksiku Wina akan partus malam ini juga dan sebagai suami ku harus siap segalanya. Mental, fisik dan kejernihan berfikir. Don’t panic!
Kusiapkan mobil dan barang-barang untuk bersalin di masukkan. Rencananya, mertua akan ikut serta untuk ke klinik. Saat berpamitan dari rumah waktu menunjukkan pukul 22.14. Wina sudah berulangkali jongkok kesakitan. Kami berangkat setelah menjemput mertua di rumah stasiun. Sesampai di klinik, kata bidan udah “buka IV” dari 10 yang akan terbuka. Walaupun semua sudah dipersiapkan tetapi ada saja yang kurang.
Aku pulang lagi untuk menjemput kasur, bantal, kain buruk, baju kaos dan beberapa pernik yang sudah dimasukkan dalam kantongan. Dengan kecepatan sedang kulajukan mobil dengan hati-hati. Bersalawat merupakan kebiasaan baru yang sering kulakukan saat menyetir mobil.
Sesampai klinik dalam kamar, Nan Tulang (sebutan untuk mertua) sedang membantu Wina dalam merenggangkan peranakan. Oh, badanku jadi ikutan mules. Sekitar pukul 2 dini hari, kubangunkan perawat jaga. Wina sudah dipapah ke rusbang dalam kamar. Tak berapa berselang, bidan Hj. Nani datang. Beliau memeriksa dan menyiapkan peralatan. Wina berjuang, mengatur nafas, mengumpulkan tenaga lalu … ah, tak tau aku apa yang yang harus kutuliskan. Disampingnya terus kuberikan semangat dan mengucapkan doa-doa.
Akhirnya bayiku keluar dan diletakkan di perut Wina. “Apa kelaminnya?” tanya istriku. “Perempuan dik” jawabku. “Alhamdulillah” kami serentah bersyukur, dan setelah tali pusernya di potong, pecahlah tangis bayi kami. Kulihat jam menunjukkan 2 lewat 23. Semenit lalu anakku lahir. Tapi setelah itu darah tak juga kunjung berhenti( blooding), sampe-sampe dinding kamar ada yang terpercik. Banyak sekali… aku khawatir. Tetapi bidan sigap dengan memasang infus. Awalnya jarum dipasang di tangan kanan, tapi nadinya gak dapat. Pindah ke tangan kiri, uh.. akhirnya. Kulihat wajah istriku pucat sekali. Sementara perawat terus saja mengeluarkan sisa-sisa gumpalan dari rahimnya. Entah mengapa, kali ini aku kuat untuk melihat darah. Biasanya, saat melihat darah menetes saja dari jari yang tersayat aku panik. Inikah yang namanya semangat? Masih sempat istriku nanya sama Bidan “Lebar sobeknya Bu?, kalo enggak lebar gak usah di heting”. Apa pulak istilah heting itu, gumamku.”Koq, gitu tanyaku”. Istriku maen mata…
Aku berwudhu dan saat aku kembali anakku di ‘bedung’, kunyalakan laptop dan mem-fotonya. Wah… matanya terbuka.
klik, klik dan klik. Lalu ku azankan. Mau menangis rasanya. Kutanyakan perawat, “Udah ditimbang, mbak?”
“Sudah, beratnya 4 kg” jawabnya santai. Haaaaa…..!!
Kata Orang-orang Keren..